Kamis, 10 Mei 2018

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU PETANI DALAM MENERAPKAN INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN PADA LAHAN USAHATANINYA

(MOTIVASI)
PENDAHULUAN
1.1.        Latar Belakang
Motivasi mempunyai peranan yang strategis dalam aktivitas belajar seseorang. Tidak ada seorang pun yang belajar tanpa motivasi. Tidak ada motivasi berarti tidak ada kegiatan belajar. Agar peranan motivasi lebih optimal, maka prinsip-prinsip motivasi dalam belajar tidak hanya diketahui, tetapi juga harus diterangkan dalam aktivitas belajar mengajar.
Penyuluhan pertanian merupakan suatu proses belajar nonformal yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk mengetahui dan melakukan sesuatu dengan tujuan untuk menambah wawasan, mengasah keterampilan serta merubah sikap sasarannya ke arah yang lebih baik. Sasaran dalam penyuluhan pertanian dalam hal ini adalah petani. Setiap petani pasti memiliki berbagai macam permasalahan dalam kegiatan usahataninya. Oleh karena itu, penyuluhan diperlukan untuk menolong para petani.
Petani yang memiliki motivasi tinggi agar usahanya bisa menjadi lebih baik maka akan antusias jika ada inovasi yang datang. Sebaliknya, jika petani yang ada lebih cenderung meneruskan pengalaman dari nenek moyangnya secara turun menurun dan berfikiran tidak terbuka maka akan sulit untuk menerima inovasi yang datang. Oleh karena itu, perlu dipelajari hal-hal yang apa sajakah yang dapat mempengaruhi motivasi setiap petani.
1.2.        Tujuan
Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi petani dalam melaksanakan usahataninya.



PEMBAHASAN
2.1  Pengertian Motivasi
Motivasi berasal dari bahasa latin “movere” yang artinya menimbulkan pergerakan. Menurut Gray et-al (dalam Winardi,2001) motivasi adalah hasil sejumlah proses yang besifat faktor internal dan faktor eksternal bagi seorang individu yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi dalam hal melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu. Menurut supriyono (2003) motivasi adalah kemampuan untuk berbuat sesuatu.
          Keberlangsungan kegiatan penyuluhan pertanian sangatlah dipengaruhi oleh motivasi dari sasarannya yaitu petani. Berbagai inovasi teknologi yang muncul kepada petani tidak semuanya langsung diadopsi oleh petani. Terdapat berbagai tipe karakteristik internal petani dalam mengadopsi inovasi yang datang. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi motivasi petani dalam menerapkan inovasi teknologi pertanian dalam kegiatan usahataninya.

2.1   Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi
Faktor-faktor  yang Mempengaruhi Motivasi terdiri dari beberapa macam. Motivasi yang ada dalam diri seseorang bukan merupakan indikator yang berdiri sendiri. Motivasi itu sendiri muncul sebagai akibat dari interaksi yang terjadi di dalam individu.
Danim (2004) menyatakan bahwa, “Ada beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi, yaitu sebagai berikut:
1.      Gaya kepemimpinan administrator. Kepemimpinan dengan gaya otoriter membuat pekerja menjadi tertekan dan acuh tak acuh dalam bekerja.
2.      Sikap individu. Ada individu yang statis dan ada pula yang dinamis. Demikian juga ada individu yang bermotivasi kerja tinggi dan ada pula yang bermotivasi kerja rendah. Situasi dan kondisi di luar dari individu memberi pengaruh terhadap motivasi. Akan tetapi yang paling menentukan adalah individu itu sendiri.
3.      Situasi kerja, lingkungan kerja, jarak tempuh dan fasilitas yang tersedia membangkitkan motivasi, jika persyaratan terpenuhi. Akan tetapi jika persyaratan tersebut tidak diperhatikan dapat menekan motivasi. Orang dapat bekerja dengan baik jika faktor pendukungnya terpenuhi. Sebaliknya, pekerja dapat menjadi frustasi jika faktor pendukung yang dia kehendaki tidak tersedia.
Sementara pendapat dari beberapa ahli mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi petani dalam menjalankan usahataninya ialah sebagai berikut:
1.    Pengalaman Berusahatani
Menurut Rukka (2013) dalam penelitiannya menyatakan bahwa pengalaman petani dalam berusahatani berpengaruh terhadap cara mengadopsi suatu inovasi. Semakin lama pengalaman berusahatani maka tingkat mengadopsi suatu teknologi akan semakin tinggi.
Pengalaman petani dalam berusahatani yang relatif lama cukup banyak memiliki pengetahuan dan keterampilan. Dengan bekal pengalaman usahatani tersebut maka segala inovasi dan hal baru yang berkaitan dengan usahataninya selalu dibandingkan dengan pengalaman usahatani yang dialaminya selama ini. Petani yang berpengalaman relatif lama dalam usahataninya cenderung bersifat kritis.
Pengalaman merupakan reaksi yang merangsang kegiatan-kegiatan para petani dalam lingkungannya yang bersifat menyenangkan dan memberikan sifat positif. Menurut Milton (1961) minat yang timbul akibat perasaan yang menytakan bahwa pengalaman-pengalaman tertenutu yang bersifat menyenangkan dan dimiliki karena dibangkitkan atau ditimbulkan. Semakin banyak pengalaman yang diperoleh oleh petani, maka minat mereka terhadap usahatani padi sawah semkin tinggi, dengan banyaknya pengalaman yang tekah mereka lalui, maka banyak cara yang dapat mereka lakukan untuk menaikkan produksi panen.
2.    Kemauan
Mardikanto (1996), menyatakan bahwa motivasi dipengaruhi oleh status sosial ekonomi petani dan persepsi petani terhadap inovasi. Status sosial ekonomi dalam masyarakat dapat dimengerti melalui apa yang dimiliki oleh individu-individu ataupun melalui kemampuan kepala keluarga untuk mengusahakannya, misalnya dengan kekuasaan atau kewenangan yang dimiliki. Status sosial ekonomi masyarakat dapat dilihat dari status sosial keluarga yang diukur melalui tingkat pendidikan kepala keluarga, perbaikan lapangan pekerjaaan dan tingkat penghasilan keluarga.
Umur responden dapat mempengaruhi kecepatan petani dalam menerapkan teknologi budidaya tanaman pertanian. Petani yang berusia lanjut tidak mempunyai gairah lagi untuk mengembangkan usahataninya. Sedangkan pada umur muda dan dewasa petani berada pada kondisi ideal untuk melakukan perubahan dalam membudidayakan tanaman pertanian. Hal ini dikarenakan pada usia muda petani mempunyai harapan akan usahataninya. Tingkat pendidikan akan berpengaruh terhadap kemampuan berpikir yang sistematis dalam menganalisis suatu masalah. Kemampuan petani menganalisis situasi ini diperlukan dalam memilih komoditas pertanian. Petani yang mempunyai tingkat pendapatan lebih tinggi akan mempunyai kesempatan untuk memilih tanaman dari pada yang berpendapatan rendah. Bagi petani yang mempunyai pendapatan yang kecil tentu tidak berani mengambil resiko karena keterbatasan modal (Yatno, et al, 2003).
3.    Tingkat Pendidikan Petani
Gambaran tingkat pendidikan petani ini menunjukkan sebagian besar petani responden memiliki kemampuan membaca dan tulis yang baik, sehingga memungkinkan petani dapat mengakses informasi dari media massa sesuai kebutuhan. Secara mental pendidikan berfungsi untuk mempersiapkan  seseorang untuk menghadapi tantangan hidup yang selalu berubah)ubah. Pendidikan dapat mempertahankan stabilitas, kontinuitas dan mendorong untuk masa depan yang lebih baik (Kusnadi, 2005).
4.    Kebutuhan
Kebutuhan adalah barang atau jasa yang benar-benar diperlukan. Dari hasil wawancara di lapangan, petani membutuhkan Teknologi budidaya tanaman kedelai terutama pada benih bermutu karena mereka sudah mengetahui apa manfaat dari benih bermutu. Kedelai merupakan bahan utama dalam pembuatan tempe, tahu, kecap dan makanan lain yang menjadi sering dikonsumsi oleh para masyarakat sehingga kebutuhan kedelai meningkat dan hingga saat ini pasokan kedelai masih import. Hal ini membuat beberapa petani untuk menanam kedelai untuk meningkatkan produksi dan menambah pendapatan guna memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
Upaya meningkatkan motivasi bertani dapat dilakukan dengan cara meningkatkan rasa percaya diri petani akan keberhasilan usahanya, dan penyuluh harus memahami perilaku petani: apa yang dibutuhkan dan hambatan serta peluang untuk meningkatkan produksinya. Kebijakan harga dan sarana produksi harus berorietansi pada keuntungan petani (Assagaf, 2004).
5.    Penghargaan
            Penghargaan merupakan suatu pemberian pada seseorang atau kelompok jika mereka melakukan sesuatu keberhasilan di bidang tertentu. Penanaman kedelai dengan benih bermutu terutama dalam seleksi benih bermutu mudah di fahami petani dan mudah diterima di masyarakat. Hasil di lapangan menunjukkan bahwa petani ingin cukup dihargai usaha taninya dalam mengadopsi Teknologi baru untuk meningkatkan produksi. Keberhasilan mereka dalam menerapkan Teknologi baru memberikan pengaruh positif terhadap petani maupun pamong desa.
            Menurut Maslow, semua orang dalam masyarakat (kecuali beberapa kasus yang patologis) mempunyai kebutuhan atau menginginkan penilaian terhadap dirinya yang mantap, mempunyai dasar yang kuat dan biasanya bermutu tinggi, akan rasa hormat diri atau harga diri. Karenanya, Maslow membedakan kebutuhan ini menjadi kebutuhan akan penghargaan secara internal dan eksternal.
            Yang pertama (internal) mencakup kebutuhan akan harga diri kepercayaan diri, kompetensi, penguasaan, kecukupan, prestasi, ketidaktergantungan, dan kebebasan (kemerdekaan). Yang kedua (eksternal) menyangkut penghargaan dari orang lain, prestise, pengakuan, penerimaan, ketenaran, martabat, perhatian, kedudukan, apresiasi atau nama baik. Orang yang memiliki cukup harga diri akan lebih percaya diri.
           



PENUTUP
Berdasarkan hasil pembahasan dari berbagai literatur atau referensi yang ada, maka dapat disimpulkan bahwa :
1.    Motivasi adalah faktor yang sangat penting atau berpengaruh dalam perilaku tertentu, motivasi adalah hasil sejumlah proses yang besifat faktor internal dan faktor eksternal bagi seorang individu yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi dalam hal melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu.
2.    Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi petani adalah pengalaman berusahatani, kemauan, tingkat Pendidikan petani, kebutuhan, penghargaan. 
(PERILAKU) 
PENDAHULUAN
1.1.        Latar Belakang
Perilaku merupakan segala perbuatan atau tindakan yang dilakukan oleh makhluk hidup. Pada dasarnya bentuk perilaku dapat diamati, melalui sikap dan tindakan, namun demikian tidak berarti bahwa bentuk perilaku itu hanya dapat dilihat dari sikap dan tindakannya saja. Perilaku dapat pula bersifat potensial yakni dalam bentuk pengetahuan, motivasi dan persepsi.
Perubahan perilaku yang terjadi atau dilakukan oleh sasaran tersebut berlangsung melalui proses belajar. Perubahan perilaku dapat dilakukan melalui beragam cara, seperti pembujukan, pemberian intensif atau hadiah bahkan melalui kegiatan-kegiatan pemaksaan baik melalui penciptaan kondisi lingkungan fisik maupun sosial ekonomi, maupun pemaksaan melalui aturan dan ancaman-ancaman. Makalah ini akan membahas tentang berbagai faktor yang dapat mempengaruhi perilaku petani dalam menjalankan kegiatan usahataninya.

Selain faktor psikologis yang menentukan sikap, juga komunikasi sosial merupakan determinan paling dominan menentukan sikap seorang petani terhadap inovasi teknologi pertanian. Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa suatu inovasi teknologi baru yang diterima individu petani melalui proses persepsi. Terbentuknya sikap seseorang menurut Mar’at (1984) yaitu dipengaruhi oleh faktor internal (fisiologis dan psikologis) dan faktor eksternal (pengalaman, situasi, norma-norma, hambatan dan dorongan). 
1.2.        Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini ialah untuk mengetahui dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku petani dalam menerapkan usaha taninya.


PEMBAHASAN

2.1          Pengertian perilaku
Sikap yang dimiliki seseorang memberikan corak pada perilaku atau tindakan orang yang bersangkutan (Walgito, 2006). Krech dan Crutchfield dalam Walgito (2006), mengatakan bahwa perilaku seseorang akan diwarnai atau dilatarbelakangi oleh sikap yang ada pada orang yang bersangkutan. Para ahli psikologi sosial memberikan pengertian tentang sikap yang sedikit berbeda-beda namun pada dasarnya semuanya bertujuan untuk mengetahui prilaku seseorang.
Walgito (2006) mendefinisikan sikap adalah suatu organisasi yang mengandung pendapat, pengetahuan, perasaan, keyakinan tentang sesuatu yang sifatnya relatif konstan pada perasaan tertentu dan memberikan dasar untuk berperilaku.
Van den Ban dan Hawkins (2000) mendefinisikan sikap sebagai perasaan pikiran, dan kecenderungan seseorang yang kurang lebih bersifat parmanen mengenai aspek-aspek tertentu dalam lingkungan. Dengan demikian komponen-komponen sikap meliputi pengetahuan, pendapat, pikiran, keyakinan dan perasaan-perasaan dan kecenderungan bertindak.
Festinger dalam Walgito (2006) mengemukakan bahwa sikap individu biasanya konsisten satu dengan yang lain dan juga dalam tindakan konsisten satu dengan yang lain. Akan tetapi bagi petani sikap dan tindakan bisa konsisten apabila inovasi yang diyakininya dapat memberikan manfaat dan keuntungan, apabila suatu inovasi tersebut tidak memberikan manfaat maka sikapnya dapat berubah pada inovasi yang lain.
2.2          Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku petani
Faktor-faktor yang mempengaruhi petani dalam menjalankan usahataninya terbagi menjadi dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal.


a.    Faktor internal
1.      Umur
Umur petani diprediksikan akan mempengaruhi perilaku petani tersebut dalam mengelola lahan pertaniannya. Umur petani berpengaruh pada kinerja dan tenaga dalam mengelola lahan pertanian. Semakin tua umur petani diasumsikan akan memiliki tingkat kinerja dan tenaga petani yang lebih rendah dibandingkan dengan petani yang lebih muda tingkat kinerja dan tenaga yang dimiliki lebih tinggi dalam mengelola lahan pertaniannya.
2.    Kepribadian
Kepribadian adalah segala corak kebiasaan manusia yang terhimpun dalam dirinya yang digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala rangsang baik yang datang dari dalam dirinya maupun dari lingkungannya, sehingga corak dan kebiasaan itu merupakan suatu kesatuan fungsional yang khas untuk manusia itu. Dari pengertian tersebut, kepribadian seseorang jelas sangat berpengaruh terhadap perilaku sehari-harinya
3.    Luas Lahan Garapan
Lahan merupakan salah satu faktor produksi yang sangat penting bagi petani. Umumnya petani memiliki lahan usahatani baik untuk tanaman pokok maupun tanaman lainnya. Menurut Lains (1988) dalam Joko Triyanto (2006) Luas lahan padi sangat mempengaruhi minat, apabila luas lahan padi semakin luas maka minat petani untuk berusahatani semakin tinggi.
Petani yang berlahan lebih sempit sering tidak dapat menerapkan usahatani secara intensif karena harus melakukan kegiatan lain diluar usahataninya untuk memperoleh tambahan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, sehingga petani tidak selalu bebas melakukan perubahan) perubahan usahataninya karena harus mengalokasikan waktu dan mencurahkan tenaganya untuk kegiatan) kegiatan di usahataninya dan di luar usahataninya (Mardikanto, 1993)


b.    Faktor eksternal
1.    Pendidikan
Inti dari kegiatan pendidikan adalah proses belajar mengajar. Hasil dari proses belajar mengajar adalah seperangkat perubahan perilaku. Dengan demikian pendidikan sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku seseorang. Seseorang yang berpendidikan tinggi akan berbeda perilakunya dengan orang yang berpendidikan rendah.
2.    Agama
Agama akan menjadikan individu bertingkah laku sesuai dengan norma dan nilai yang diajarkan oleh agama yang diyakininya.
3.    Kebudayaan
Kebudayaan diartikan sebagai kesenian, adat istiadat atau peradaban manusia. Tingkah laku seseorang dalam kebudayaan tertentu akan berbeda dengan orang yang hidup pada kebudayaan lainnya, misalnya tingkah laku orang Jawa dengan tingkah laku orang Papua
4.    Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh untuk mengubah sifat dan perilaku individu karena lingkungan itu dapat merupakan lawan atau tantangan bagi individu untuk mengatasinya. Individu terus berusaha menaklukkan lingkungan sehingga menjadi jinak dan dapat dikuasainya.











PENUTUP
Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan yang telah ditulis dari berbagai referensi yang ada, maka dapat disimpulkan:
1.    Perilaku merupakan segala perbuatan atau tindakan yang dilakukan oleh setiap makhluk hidup, perilaku dapat juga bersifat potensial yaitu dalam bentuk pengetahuan, motivasi, persepsi.
2.    Perilaku petani dalam menerapkan usaha taninya dibagi kedalam dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
3.    Faktor internal meliputi umur, kepribadian dan luas lahan garapan. Sedangkan faktor eksternalnya ialah Pendidikan, agama, kebudayaan, lingkungan.























DAFTAR PUSTAKA
http://agus.blogchandra.com/teori-teori-motivasi/Sudrajad,akhmad. 2008.  Di upload pada (11 November 2017)
http://fp.uns.ac.id/jurnal/ (diakses tanggal 7 November 2017)
Ryanti, D.B.P & Prabowo, H. Seri Diktat Kuliah Psikologi Umum 2. Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma
Rosnita,dkk. 2016. Jurnal Penilitian-Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Petani Dalam Menerima Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (Krpl) Di Kabupaten Pelalawan.Riau. Universitas Riau Pekanbaru.
Rukka,Hermaya dan Arman Wahhab. 2013. Jurnal Agrisistem-Faktor yang mempengaruhi motivasi petani dalam pelaksanaan kegiatan P2BN di Kecamatan Barru Kabupaten Barru. Gowa. Sekolah Tinngi Penyuluhan Pertanian (STPP) Gowa.
Satriani, Lukman Effendy dan Elih Juhdi Muslihat. 2012. Jurnal-Motivasi Petani dalam Penerapan Teknologi PTT Padi Sawah (Oryza sativa) Di desa Gunung Sari Provinsi Sulawesi Barat. Bogor. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Bogor.
Yahya,Mukhlis. 2002. Jurnal-Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Adopsi Petani Dalam Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi Sawah Di Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara. Medan. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Medan.


TEKNIK BUDIDAYA CAISIM

TEKNIK BUDIDAYA CAISIM
A.   PERSIAPAN LAHAN
Sebelum ditanami Caisim, lahan harus dalam kondisi bersih dari berbagai macam tumbuhan gulma serta rumput liar. Tanah juga harus gembur dengan cara mencangkul atau membajaknya. Setelah persiapan awal pembuatan lahan selesai, maka tahap persiapan lahan dilanjutkan dengan beberapa tahap dibawah ini;
1.    Membuat bedengan
Buatlah bedengan berukuran lebar 1 meter dan tinggi 25-30 cm. Antara bedengan yang satu dengan yang lain, pisahkan dengan parit selebar 30 cm.
2.    Menebar Pupuk
Taburkanlah pupuk organik atau pupuk kandang di atas bedengan dengan dosis 3-5 ton/ha, dan aduk sampai rata. Biarkan selama 7 hari sebelum lahan siap ditanami.
3. Mengukur dan menstabilkan kadar keasaman tanah
Untuk daerah yang memiliki pH terlalu rendah (asam), lakukan pengapuran untuk menaikkan derajat keasaman tanah, sekitar 2 sampai 4 minggu sebelum proses penanaman. Sementara untuk jenis kapur yang dipakai adalah kapur kalsit (CaCO3) atau dolomit (CaMg(CO3)2).

B.   Persemaian Caisim

1.    Persiapan Media Semai
Lahan berbentuk bedeng selebar 110-120 cm, memanjang Utara-Selatan, tanahnya diolah sedalam ± 30 cm dan dibersihkan dari segala macam kotoran termasuk bekas-bekas akar. Lahan digemburkan dan dicampur pupuk kandang (2:1/1:1), lalu diratakan. Tutup bedengan dengan lembaran plastik setinggi 1,25-1,50 meter (Timur) dan 0,80-1,00 meter (Barat).
Lahan persemaian dapat diganti dengan kotak persemaian, dan dilakukan dengan cara sebagai berikut;
1.   Buat medium terdiri dari tanah, pasir dan pupuk kandang (1:1:1).
2.   Buat kotak persemaian kayu (50-60 cm x 30-40 cm x 15-20cm) dan lubangi dasar kotak untuk drainase.
3.   Masukkan medium kedalam kotak dengan tebalan 10 – 15 cm.
Bila menyemai dalam bumbung atau polybag, diisi dengan campuran tanah halus dengan pupuk kandang ( 2:1 ) sebanyak 90%. Di beberapa daerah, media semai disterilkan dahulu dengan mengkukus media semai pada temperatur 55-1000C selama 30-60 menit atau dengan menyiramkan larutan formalin 4%, ditutup lembar plastik (24 jam), lalu diangin-anginkan. Cara lain dengan mencampurkan media semai dengan zat fumigan Basamid-G (40-60 gram/ m2) sedalam 10-15 cm, disiram air sampai basah dan ditutup dengan lembaran plastik (5 hari), lalu plastik dibuka, dan lahan diangin-anginkan (10-15 hari).
Yang harus diperhatikan adalah naungan bedengan, untuk mengurangi cahaya matahari dan menghindari pukulan air hujan yang dapat merusak tanaman muda. Naungan dapat menggunakan lembaran plastik atau lembaran tembus cahaya lainnya.
2.    Teknik Penyemaian Benih
Siram tanah satu hari sebelum penyemaian.
·         Buat alur-alur penanaman saling menyilang (5-10 cm).
·         Pada titik-titik persilangan atau tiap bumbung polybag, taburkan benih (1 benih satu titik).
·         Tutup benih dengan tanah halus tipis-tipis.
·         Siram dengan gembor yang berlubang halus.
·         Penyemaian biasanya dilakukan pada pagi atau sore hari.

3.    Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
·         Penyiraman.
Penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi dan sore hari untuk mencegah terjadinya kekeringan, sehingga biji tidak dapat tumbuh, penyiraman dilakukan dengan menggunakan alat gembor yang mempunyai lubang halus.
·          Mengatur naungan.
Pada stadia perkecambahan, petsai tidak dapat menerima cahaya yang berlebihan, sehingga diperlukan pengaturan. Persemaian dibuka setiap pagi hingga pukul 10.00 dan sore mulai pukul 15.00. Diluar waktu diatas, cahaya matahari terlalu panas dan kurang menguntungkan bagi bibit. Selain itu, saat terjadi hujan, naungan harus ditutup untuk menghindari pukulan air hujan yang dapat merusak bibit.
·         Penyiangan
Penyiangan dilakukan terhadap tanaman lain yang dianggap mengganggu pertumbuhan bibit, dilakukan dengan mencabuti rumput-rumput atau gulma lainnya yang tumbuh disela-sela tanaman pokok.
·         Pencegahan dan pemberantasan hama-penyakit.
Hama yang menyerang biji yang belum tumbuh dan tanaman muda adalah semut, siput, bekicot, ulat tritip dan ulat pucuk, molusca dan cendawan. Sedangkan, penyakit adalah penyakit layu. Pencegahan dan pemberantasan digunakan Insektisida dan fungisida seperti Furadan 3 G, Antrocol, Dithane, Hostathion dan lain-lain.
4.    Pemindahan Bibit
Dilakukan hanya bila benih disemai di tempat persemaian. Pemindahan ke lahan dilakukan pada usia 1 bulan atau bila bibit telah berdaun 4 – 5 helai karena telah mempunyai perakaran yang kuat. Tetapi terkadang pada usia 10-15 hari bibit dipindahkan dahulu ke bumbung (koker), setelah itu kelahan. Pemindahan bibit dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1.    Sistem cabut, yaitu bibit dan dicabut dengan hati-hati agar tidak merusak akar. Bila disemai pada polybag, pengambilan bibit dilakukan dengan cara membalikkan polybag dengan batang bibit dijepit antara telunjuk dan jari tengah, kemudian polybag ditepuk-tepuk perlahan hingga bibit keluar. Bila bibit disemai pada bumbung daun pisang atau daun kelapa, bibit dapat ditanam bersama bumbungnya.
2.    Sistem putaran, caranya tanah disiram dan bibit dengan diambil beserta tanahnya 2,5-3 cm dari batang dengan kedalaman 5 cm.

C.   Penanaman caisim
a.    Pembuatan Lubang Tanam
 Lubang tanam dibuat sesuai dengan jarak tanam sedalam cangkul atau dengan ukuran 30 x 30 x 30 cm.
b.    Cara Penanaman
1.    Waktu tanam yang baik yaitu pada pagi hari antara pukul 06.00-10.00 atau sore hari antara pukul 15.00-17.00, karena pengaruh sinar matahari dan temperatur tidak terlalu tinggi.
2.    Pilih bibit yang segar dan sehat (tidak terserang penyakit ataupun hama).
3.    Bibit yang disemai menggunakan pollybag harus dihardening terlebih dahulu agar perakaran bibit tidak rusak kemudian baru dipindahkan ke lubang tanam.
4.    Bibit segera ditanam pada lubang dengan memberi tanah halus sedikit-demi sedikit dan tekan tanah perlahan  agar benih berdiri tegak.
5.    Siram bibit dengan air sampai basah benar.


D.   Pemeliharaan Tanaman
a.    Penyulaman
Penyulaman dilakukan pada saat umur 3-7 hari setelah tanam.
b.    Penyiangan
Penyiangan dilakukan sebanyak 1-2 kali sebelum pemupukan dan bersamaan dengan penggemburan tanah pada waktu tanaman berumur 2 minggu dan 4 minggu dengan cara hati-hati dan tidak terlalu dalam karena dapat merusak sistem perakaran tanaman. Pada tahap akhir penanaman penyiangan sebaiknya tidak dilakukan.
c.    Pembubunan
Pembubunan dilakukan bersama penyiangan dengan mengangkat tanah yang ada pada saluran antar bedengan ke arah bedengan berfungsi untuk menjaga kedalaman parit dan ketinggian bedeng dan meningkatkan kegemburan tanah.
d.    Pemupukan
Pemupukan susulan dilakukan 2 kali yaitu pada umur 2 dan 4 minggu, sedangkan untuk varietas berumur pendek dilakukan 1 kali pada umur 2 minggu. Cara pemupukan adalah sebagai berikit:
1.    Pupuk urea (110 Kg/Ha) atau ZA (240 Kg/Ha). Pada tanah kurang subur urea 200 Kg/Ha atau ZA 400 Kg/Ha atau pupuk Nitrogen diberikan dua kali dengan dosis 0,5 kali dosis anjuran
2.    Cara pemberian pada larikan atau melingkari tajuk tanaman sejauh   15 – 20 cm sedalam 10-15 cm, kemudian ditutup tanah.

e.    Pengairan dan Penyiraman
Pada fase awal pertumbuhan, dilakukan rutin 1-2 kali sehari terutama pada musim kemarau dan berangsur-angsur dikurangi tetapi tidak sampai kekeringan.
Waktu penyiraman sebaiknya pagi atau sore hari dengan menggunakan gembor, selang atau cara dileb.



Rabu, 09 Mei 2018

Teknis Budidaya Rosella

Teknis Budidaya Rosella


            Sejarah Tanaman Rosella
            Rosella dengan nama Latin Hibiscus sabdariffa ini sedang naik daun. Padahal tanaman ini sudah lama ada di Indonesia. Dulu kelopak Rosella dikenal sebagai frambozen yang digunakan sebagai bahan pembuat sirup berwarna merah yang beraroma khas. Sekarang ini, kelopak Rosella dikenal sebagai bahan minuman dan disebut teh Rosella. Tanaman yang masih kerabat bunga sepatu ini banyak ditemukan sebagai tanaman pagar. Rosella yang selama ini dikenal sebagai bunga, sebenarnya adalah kelopak buah. Karena bentuknya seperti bunga (terlebih jika telah dikeringkan), maka orang menyebutnya bunga Rosella.
            Di Indonesia, penelitian tentang uji komponen zat gizi dan aktivitas antioksidan pada kelopak Rosella pernah diteliti oleh Ir. Didah Nurfaridah pada tahun 2005. Dalam penelitiannya, staf pengajar di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor ini menemukan bahwa kadar antioksidan yang terkandung dalam kelopak kering Rosella jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman kumis kucing dan bunga knop. Zat aktif yang paling berperan dalam kelopak bunga Rosella meliputi gossypetin, antosianin, dan glucoside hibiscin.
Syarat Tumbuh Tanaman Rosella
Pada prinsipnya tanaman Rosella dapat hidup di kondisi lahan, cuaca, serta suhu apapun, akan tetapi di setiap daerah yang berbeda akan menghasilkan warna yang berbeda pula. Rosella dapat hidup di ketinggian 0-900 m di atas permukaan laut. Rosella tumbuh baik di dataran rendah dengan ketinggian 0-500 m dpl. Pertumbuhan Rosella dapat optimal di kisaran 20-34 derajat celcius. Rosella merupakan tanaman semusim, hanya mengalami satu kali masa produktif. Batang Rosella akan tumbuh dari satu titik tumbuh. Batangnya tumbuh relatif tinggi yaitu 1-3 meter dan lebar bisa mencapai 2 meter.
Teknis Budidaya Rosella
A.    Persiapan lahan
            Lahan dibersihkan dari gulma yang tumbuh kemudian tanah dibajak dan digaru agar rata lalu dibagi dalam petak-petak yang dipisahkan selokan pengairan. Pada petak-petak dibuat parit keliling dengan lebar 25 cm dan kedalaman 20-30 cm. Parit akan bertemu dengan selokan pengairan. Parit dan selokan pada tanah yang ringan tidak perlu digali dalam-dalam. Untuk mencapai area yang ditanami lebih luas maka ukuran got dan parit dapat diperkecil. 

B.    Penanaman
Ukuran jarak tanam tergantung dari varietas, waktu tanam, dan kesuburan tanah. Jika tujuan utama penanaman rosella untuk diambil serat maka jarak pertanamannya adalah rapat namun jika tujuan penanaman rosella untuk diambil bunganya maka jarak pertanamannya adalah reggang. Jarak bertanam bergantung keadaan tanah, tanah yang subur dan banyak mengandung bahan organis akan memberikan pertumbuhan yang lebat, berbentuk besar, tinggi, dan berdahan. Jarak tanam yang digunakan klai ini adalah 75 cm x 75 cm Untuk mencegah munculnya dahan maka jarak dirapatkan dan pada tanah yang turus digunakan jarak yang lebih rapat lagi. Jarak yang dianjurkan untuk pertanaman rosella yang diambil seratnya yaitu berukuran 12x12 cm, 15x15 cm, 12,5x15 cm, 12,5x20 cm, atau 20x20 cm. 

Pembibitan harus terpisah jauh dari pertanaman produksi serat sebab hama dan penyakit mudah berpindah tempat. Jarak tanam yang dipergunakan ialah 75x50 cm, 75x75cm, dan 100x75cm. 

C.   Benih 
Benih yang digunakan sebaiknya berasal dari pemungutan pertama sebab pertumbuhan biji telah mencapai pertumbuhan yang lengkap. Biji dipilih yang besar agar membawa tumbuhan dengan kecambah yang lebih kuat dan segar. 

D.   Cara bertanam 
Bedengan diairi agar tidak kering dan dijaga agar keadaan tanah tidak terlalu basah, lalu ditugal sedalam 1 -3 cm. Benih dimasukkan ke dalam lubang yang telah ditugal. Untuk mendapatkan pertumbuhan yang merata maka bibit dapat direndam sebelumnya selama 12 – 24 jam sebelum ditanam. 

E.    Penyulaman
Penyulaman dilakukan ketika ada benih tanaman rosella yang tidak tumbuh pada lahan pertanaman, penyulaman dilakukan sama seperti penanaman awal.

F.    Penyiangan
Proses penyiangan dilakukan untuk menghilangkan gulma atau tanaman yang tidak dikehendaki. Penyiangan dilakukan agar gulma tidak mengganggu proses penyerapan unsur hara dan penyerapan air dalam tanah. Penyingan dilakukan dengan menggunakan alat atau dengan tangan. Penyingan dilakukan bersamaan dengan menggemburkan tanah.
Penyiangan harus dilakukan karena tanaman yang cukup mendapat hujan akan membawakan pertumbuhan rumput yang lebat dan subur. Penyiangan cukup dilakukan 2-3 kali dengan interval 5-7 hari agar pertumbuhan rosella subur tanpa kompetisi dengan rumput. Penyiangan sebaiknya dilakukan hingga bersih agar terhindar dari serangan penyakit Sclerotium dan Phytoptora. 

Tumbuhan rosella memerlukan air banyak untuk pertumbuhannya sehingga diperlukan pengairan jika tidak ada hujan. Akan tetapi pengairan harus dijaga jangan sampai tumbuhan langsung terkena air agar tidak terserang Phytopthora. Air dialirkan melalui selokan dan parit dengan debit rendah serta pinggiran bedengan tiak ditanami. Selokan dan parit sebaiknya selalu dibersihkan agar air dapat dengan mudah mengalir ke saluran pembuangan saat hujan deras.

G.   Pemupukan 

Waktu yang tepat untuk memberikan pupuk adalah pagi-pagi karena keadaan tanah masih basah. Macam-macam pupuk yang digunakan adalah ZA, dosis 400 kg/Ha, diberikan sekaligus pada saat bertanam dengan cara menaburkan pupuk didalam lubang tanam kedalaman 7 cm dari permukaan tanah lalu ditutup kedalaman 4 cm, lalu diatasnya dapat ditanami benih. Pupuk N, dosis 119 kg/Ha, diberikan dua kali, yakni pada umur 21 dan 60 hari. Pertama pupuk ditaburkan dalam garitan sedalam kedalaman 7 cm dari dataran tanah dan 5 cm dari barisan tanaman yang membujur utara-selatan, yang terakhir dengan cara yang sama tapi menurut arah timur-barat. 

Daftar pustaka

Loebis,A.Th. 1970. Pengantar Berjtjotjok Tanam Rosella. Penerbit Yasaguna, Jakarta.

Saha, M.A., N. Wulandari, dan Asokawati D.M. 2012. Rosella. Makalah Budidaya Tanaman Semusim. Fakultas Pertanian. UGM.

Tohir,Kaslan A. 1967. Pedoman Bertjotjok Tanam Tanaman Serat-Serat. Balai Pustaka, Jakarta.