LAPORAN KAJIAN AGRIBISNIS DENGAN PENDEKATAN POHON INDUSTRI
OLEH
WAHYU BAGYAN
SUDRAJAT
04.1.15.0745
EKONOMI
PERTANIAN
SEKOLAH TINGGI PENYULUHAN PERTANIAN
(STPP)
BOGOR
JURUSAN PENYULUHAN PERTANIAN
2015
BAB I
KARAKTERISTIK SORGUM
A. Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Subkelas : Commelinidae
Ordo : Cyperales
Keluarga : Poaceae
Genus : Sorghum Moench
Spesies : Sorghum bicolor
(L.) Moench
B. MORFOLOGI
Genus sorghum terdiri atas 20 atau 32 spesies,
berasal dari Afrika Timur, satu spesies di antaranya berasal dari
Meksiko. Tanaman ini dibudidayakan di Eropa
Selatan, Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Asia Selatan. Di antara
spesies-spesies sorgum, yang paling banyak dibudidayakan adalah spesies Sorghum
bicolor (L.) Moench. Morfologi tanaman sorgum mencakup akar, batang, daun,
tunas, bunga, dan biji
1. Perakaran
Tanaman
sorgum merupakan tanaman biji berkeping satu, tidak membentuk akar tunggang,
perakaran hanya terdiri atas akar lateral. Sistem perakaran sorgum terdiri atas
akar-akar seminal (akar-akar primer) pada dasar buku pertama pangkal batang, akar
skunder dan akar tunjang yang terdiri atas akar koronal (akar pada pangkal
batang yang tumbuh ke arah atas) dan akar udara (akar yang tumbuh di permukaan
tanah). Tanaman sorgum membentuk perakaran sekunder dua kali lebih banyak dari
jagung. Ruang tempat tumbuh akar lateral mencapai kedalaman 1,3-1,8 m, dengan
panjang mencapai 10,8 m. Sebagai tanaman yang termasuk kelas monokotiledone,
sorgum mempunyai sistem perakaran serabut (Artschwanger 1948, Singh et al.
1997, Rismunandar 2006).
Akar
primer adalah akar yang pertama kali muncul pada proses perkecambahan benih
yang berkembang dari radikula, berfungsi sebagai alat transportasi air dan
nutrisi bagi kecambah dalam tanah. Seiring dengan proses pertumbuhan tanaman
pada saat muncul akar sekunder pada ruas pertama, fungsinya segera digantikan
oleh akar sekunder (Arthswager 1948, Singh et al. 1997, du Plessis 2008).
Akar
skunder berkembang di ruas pertama pada mesokotil di bawah tanah yang kemudian
berkembang secara ekstensif yang diikuti oleh matinya akar primer. Pada tahap
selanjutnya, akar sekunder berfungsi menyerap air dan unsur hara. Panjang akar
ini 5-15 cm. Akar skunder berukuran kecil, seragam, dan hanya sebagian kecil
dari sistem perakaran sorgum. Akar skunder lain tumbuh mulai pada ruas kedua
dari mesokotil hingga ke atas, yang lebih dikenal sebagai akar permanen. Akar
permanen bercabang secara lateral dan masuk ke tanah secara vertikal. Pada
tanah yang gembur, akar skunder mampu tumbuh hingga 1 m ke samping dan 2 m ke
dalam tanah untuk menyerap nutrisi (Arthswager 1948, Singh et al. 1997, du
Plessis 2008).
Akar
tunjang berkembang dari primordial buku yang berada kurang dari 1 m. Pada
tanaman sorgum, bahkan akar tunjang lebih tinggi dari akar jagung, mencapai 1,2
m di atas permukaan tanah, berfungsi seperti jangkar bagi tanaman. Akar tunjang
umumnya berukuran lebih besar dan berwarna lebih gelap jika berada di permukan
tanah. Akar tunjang memiliki ukuran dan fungsi yang sama dengan akar normal
apabila mencapai tanah. Perakaran tanaman sorgum sanggup menopang pertumbuhan
dan perkembangan tanaman ratun hingga dua atau tiga kali lebih kuat, dan
menjadikan tanaman toleran kekeringan (House 1985, Arthswager 1948, Singh et
al. 1997, du Plessis 2008).
2. Batang
Batang
tanaman sorgum merupakan rangkaian berseri dari ruas (internodes) dan buku
(nodes), tidak memiliki kambium. Pada bagian tengah batang terdapat seludang
pembuluh yang diselubungi oleh lapisan keras (sel-sel parenchym). Tipe batang
bervariasi dari solid dan kering hingga sukulen dan manis. Jenis sorgum manis
memiliki kandungan gula yang tinggi pada batang gabusnya, sehingga berpotensi
dijadikan sebagai bahan baku gula sebagaimana halnya tebu (Hunter and Anderson
1997, Hoeman 2012). Bentuk batang tanaman sorgum silinder dengan diameter pada
bagian pangkal berkisar antara 0,5-5,0 cm. Tinggi batang bervariasi, berkisar
antara 0,5-4,0 m, bergantung pada varietas (House 1985, Arthswager 1948, du
Plessis 2008).
Ruas
batang sorgum pada bagian tengah tanaman umumnya panjang dan seragam di banding
ruas pada bagian bawah dan atas tanaman. Ruas paling panjang terdapat pada ruas
terakhir (ujung tanaman), yang berupa tangkai malai. Permukaan ruas batang
sorgum mirip dengan tanaman tebu, yaitu diselimuti oleh lapisan lilin yang
tebal, kecuali pada ujung batang. Lapisan lilin paling banyak pada bagian atas
dari pelepah daun, yang berfungsi mengurangi transpirasi sehingga sorgum
toleran terhadap kekeringan. Buku pada batang sorgum rata dengan ruasnya, pada
bagian ini tumbuh akar tunjang dan tunas (Arthswager 1948, du Plessis 2008).
Bagian dalam batang sorgum seperti spon setelah tua. Pada kondisi kekeringan,
bagian dalam batang sorgum bisa pecah (du Plessis 2008).
Pada
tanaman sorgum manis, bagian dalam batang berair (juicy) karena mengandung
gula. Kandungan gula pada saat biji masak fisiologis berkisar antara 10-25%
(Hunter and Anderson 1997). Kandungan gula pada tanaman sorgum manis merupakan
karbohidrat yang dapat terfermentasi (fermentable carbohydrates) 15-23%.
Kandungan gula tersebut terdiri atas sukrosa 70%, glukosa 20%, dan fruktosa
10%. Sorgum manis mampu memproduksi biomas 20-50 t/ha (Shoemaker et al. 2010).
Tinggi
tanaman sorgum bergantung pada jumlah dan ukuran ruas batang. Sorgum memiliki
tinggi rata-rata 2,6-4 m. Pohon dan daun sorgum mirip dengan jagung. Tinggi
batang sorgum manis yang dikembangkan di China dapat mencapai 5 m, dan struktur
tanaman yang tinggi ideal dikembangkan untuk pakan ternak dan penghasil gula
(FAO 2002). Tinggi tanaman sorgum berhubungan erat dengan umur dan jumlah daun,
pada tanaman berumur genjah tinggi dan jumlah daun lebih sedikit daripada
tanaman berumur dalam.
3. Tunas
Pada
beberapa varietas sorgum, batangnya dapat menghasilkan tunas baru membentuk
percabangan atau anakan dan dapat tumbuh menjadi individu baru selain batang
utama (House 1985). Ruas batang sorgum bersifat gemmiferous, setiap ruas
terdapat satu mata tunas yang bisa tumbuh sebagai anakan atau cabang. Tunas
yang tumbuh pada ruas yang terdapat di permukaan tanah akan tumbuh sebagai
anakan, sedangkan tunas yang tumbuh pada batang bagian atas menjadi cabang
(Arthswager 1948). Pertumbuhan tunas atau anakan bergantung pada varietas dan
lingkungan tumbuh tanaman sorgum. Pada suhu kurang dari 180 C memicu munculnya
anakan pada fase pertumbuhan daun ke-4 sampai ke-6. Tanaman sorgum tahunan
mampu menghasilkan anakan 2-3 kali lebih banyak dari sorgum semusim. Kemampuan
menghasilkan anakan dan tunas lebih banyak menjadikan tanaman sorgum bisa
dipanen untuk kemudian di ratun (Hunter and Anderson 1997, du Plessis 2008).
Cabang pada tanaman sorgum umumnya tumbuh bila batang utama rusak. Jumlah
cabang dan anakan bergantung pada varietas, jarak tanam, dan kondisi lingkungan
(Arthswager 1948).
4. Daun
Daun
merupakan organ penting bagi tanaman, karena fotosintat sebagai bahan pembentuk
biomasa tanaman dihasilkan dari proses fotosintesis yang terjadi di daun
(Sitompul dan Guritno 1995). Sorgum mempunyai daun berbentuk pita, dengan
struktur terdiri atas helai daun dan tangkai daun. Posisi daun terdistribusi
secara berlawanan sepanjang batang dengan pangkal daun menempel pada ruas batang. Panjang daun sorgum rata-rata 1 m
dengan penyimpangan 10-15 cm dan lebar 5-13 cm (Arthswager 1948, House 1985).
Jumlah daun bervariasi antara 7-40 helai, bergantung pada varietas (Arthswager
1948, Martin 1970, Gardner et al. 1981).
Daun
melekat pada buku-buku batang dan tumbuh memanjang, yang terdiri atas pelepah
dan helaian daun. Pada pertemuan antara pelepah dan helaian daun terdapat
ligula (ligule) dan kerah daun (dewlaps). Helaian daun muda kaku dan tegak,
kemudian menjadi cenderung melengkung pada saat tanaman dewasa. Helaian daun
berbentuk lanselot, lurus mendatar, berwarna hijau muda hingga hijau tua dengan
permukaan mengkilap oleh lapisan lilin. Stomata berada pada permuakaan atas dan
bawah daun. Tulang daun lurus memanjang dengan warna bervariasi dari hijau
muda, kuning hingga putih, bergantung pada varietas (Arthswager 1948).
Keunikan
daun sorgum terdapat pada sel penggerak yang terletak di sepanjang tulang daun.
Sel ini dapat menggulung daun secara cepat bila terjadi kekeringan, untuk
mengurangi transpirasi. Pelepah daun melekat pada ruas dan menyelimuti batang,
agak tebal dan semakin tipis di pinggir, dengan lebar sekitar 25-30 cm atau
beragam, bergantung varietas, bagian dalamnya berwarna putih dan mengkilat,
sedangkan bagian luar berwarna hijau dan berlapis lilin. Permukaan pelepah
licin hingga berambut (Arthswager 1948, du Plessis 2008).
Hasil
penelitian Bullard dan York (1985) menunjukkan bahwa banyaknya daun tanaman
sorgum berkorelasi dengan panjang periode vegetatif, yang dibuktikan oleh
setiap penambahan satu helai daun memerlukan waktu 3- 4 hari. Freeman (1970)
menyebutkan bahwa tanaman sorgum juga mempunyai daun bendera (leaf flag) yang
muncul paling akhir, bersamaan dengan inisiasi malai.
Daun
bendera (flag leaf), merupakan daun yang terakhir (terminal leaf) sebelum
muncul malai, memiliki fungsi yang sama sebagai organ fotosintesis dan
menghasilkan fotosintat. Daun bendera umumnya lebih pendek dan lebar dari
daun-daun pada batang (House 1985). Pelepah daun bendera menyelubungi primordia
bunga selama proses perkembangan primordia bunga. Fase ini disebut sebagai fase
booting, yang dalam bahasa Indonesia sering di sebut fase bunting. Daun bendera
akan membuka oleh dorongan pemanjangan tangkai bunga dan perkembangan bunga
dari primordia bunga menjadi bunga sempurna yang siap untuk mekar. Pelepah dan
daun bendera di lapisi oleh lapisan lilin yang tebal (Singh et al. 1997). Daun
bendera muda bentuknya kaku dan tegak dan akan melengkung seiring dengan fase
penuaan daun.
5. Bunga
Rangkaian
bunga sorgum berada pada malai di bagian ujung tanaman. Sorgum merupakan
tanaman hari pendek, pembungaan dipicu oleh periode penyinaran pendek dan suhu
tinggi (Pedersen et al. 1998). Bunga sorgum merupakan bunga tipe panicle/malai
(susunan bunga di tangkai) (Hunter and Anderson 1997). Bunga sorgum secara utuh
terdiri atas tangkai malai (peduncle), malai (panicle), rangkaian bunga
(raceme), dan bunga (spikelet).
Tangkai
malai (peduncle) merupakan ruas paling ujung (terminal internode) yang menopang
malai dan paling panjang, yang terdapat pada batang sorgum. Tangkai malai
memanjang seiring dengan perkembangan malai, dan mendorong malai keluar dari
pelepah daun bendera. Ukuran panjang
tangkai malai beragam, bergantung varietas. Pada beberapa varietas,
tangkai malai pendek dan tertutup oleh
pelepah daun bendera dan
berbentuk lurus atau melengkung (House 1985, Singh et al. 1997). Bagian dari
tangkai malai/peduncle terlihat di antara pangkal malai/panicle dengan pelepah
daun bendera yang disebut leher malai/ exsertion. Panjang leher malai beragam,
berkisar antara < 5,1 - > 20 cm (Singh et al. 1997, PPV and FRA 2007).
Malai
(panicle) pada sorgum tersusun atas tandan primer, sekunder, dan tersier
(Gambar 1). Susunan percabangan pada malai semakin ke atas semakin rapat,
membentuk raceme yang longgar atau kompak, bergantung pada panjang poros malai,
panjang tandan, jarak percabangan tandan dan kerapatan spikelet (Gambar 2).
Ukuran malai beragam dengan panjang berkisar antara 4-50 cm dan lebar 2-20 cm
(House 1985, Magness et al. 1971, Dicko et al. 2006). Malai tanaman sorgum
beragam, bergantung pada varietas dan dapat dibedakan berdasarkan posisi,
kerapatan, dan bentuk. Berdasarkan posisi, malai sorgum ada yang tegak, miring
dan melengkung; sedangkan berdasarkan kerapatan, malai sorgum ada yang kompak,
longgar, dan intermedier. Berdasarkan bentuk, malai ada yang oval, silinder,
elip, seperti seruling, dan kerucut (Martin 1970). Pada sorgum tipe liar,
bentuk malai cenderung raceme terbuka
(Hunter and Anderson 1997).
6. Biji
Biji sorgum yang
merupakan bagian dari tanaman memiliki ciri-ciri fisik berbentuk bulat
(flattened spherical) dengan berat 25-55 mg (Dicko et al. 2006). Biji sorgum
berbentuk butiran dengan ukuran 4,0 x 2,5 x 3,5 mm. Berdasarkan bentuk dan
ukurannya, sorgum dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu biji berukuran kecil
(8-10 mg), sedang (12-24 mg), dan besar (25-35 mg). Biji sorgum tertutup sekam
dengan warna coklat muda, krem atau
putih, bergantung pada varietas (Mudjisihono dan Suprapto 1987). Biji sorgum
terdiri atas tiga bagian utama, yaitu
lapisan luar (coat), embrio
(germ), dan endosperm (Gambar 7).
Bagian lapisan
luar biji sorgum terdiri atas hilum dan perikarp yang mengisi 7,3-9,3% dari
bobot biji (du Plessis 2008). Hilum berada pada bagian dasar biji. Hilum akan
berubah warna menjadi gelap/hitam pada saat biji memasuki fase masak fisiologis
(House 1985). Perikarp terdiri atas lapisan mesokarp dan endocarp. Mesokarp
merupakan lapisan tengah dan cukup tebal, berbentuk polygonal, dan
mengandung sedikit granula pati. Endokarp tersusun dari sel yang melintang dan
berbentuk tabung, pada endokarp terdapat testa dan aleuron. Pada lapisan ini terdapat senyawa
fenolik (Dicko et al. 2005, du Plessis
2008).
Lapisan testa
bersifat padat dan rapat. Ketebalan lapisan testa bervariasi untuk setiap
varietas, biasanya paling tebal pada puncak biji dan yang tertipis terdapat di
dekat lembaga. Ketebalan testa di puncak biji berkisar antara 100-140 μm, dan
yang paling tipis berukuran 10-30 μm. Lapisan aleuron terdapat di atas
permukaan endosperma biji. Warna biji dipengaruhi oleh warna dan ketebalan
kulit (pericarp), terdapatnya testa serta tekstur dan warna endosperm. Warna
pada testa adalah akibat adanya
tanin (Hahn and Rooney 1986, Waniska
2000, Earp et al. 2004, du Plessis 2008). Tanin berasa pahit dan bersifat
malnutrisi sehingga tidak disukai oleh burung dan
BAB
II
MANFAAT
EKONOMI TANAMAN SORGUM
1)
Sorgum sebagai bahan pangan
Sorgum
dapat dimanfaatkan sebagai butir beras sorgum dan tepung sorgum. Beras sorgum
bisa langsung ditanak sebagai nasi sorgum, atau digiling dijadikan tepung
sorgum sebagai bahan dasar kue. Selain itu dapat dijadikan penganan jajan pasar
berupa tapai, wajik, lemper, rengginang, dan sebagainya.
2)
Sorgum sebagai bahan baku
boietanol
Batang sorgum
dapat dijadikan bahan baku untuk membuat bioetanol. Dengan melalui proses
fermentasi, hingga proses destilasi. Sorgum merupakan tanaman yang memiliki
banyak manfaat sebagai bahan pangan, pakan ternak dan bahan bakar alternatif.
Sorgum memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi dibanding bahan pangan yang
lainnya sehingga cukup potensial sebagai bahan pangan pengganti beras. Bahan
Pangan Kalori (kal) Protein (g) Lemak (g) Karbohidrat (g) Air (%) Serat (%) Ca
(mg) P (mg) Fe (mg) Sorgum 332 11 3,30 73 11,20 2,30 28 287 4,40 Beras 360 7
6,70 79 9,80 1 6 147 0,80 Jagung 361 9 4,50 72 13,50 2,70 9 380 4,60 Sumber
(Beti, dkk. 1990) Daun dan batang segar dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Setiap ekor sapi mengkonsumsi rata-rata 15 kg daun segar/hari. Batang dan daun
sorgum dapat dimanfaatkan untuk membuat etanol, batangnya dihancurkan dan
menghasilkan cairan manis, kemudian difermentasi dan selanjutnya dilakukan
pemurnian untuk mendapatkan bioetanol.
3)
Sorgum sebagai pakan
Tanaman
Sorgum dapat dijadikan ransum makanan bagi ternak sebagai pengganti jagung
kuning, terutama untuk ayam, karena biji sorgum memiliki harga yang lebih murah
daripada jagung kuning sehingga dapat menekan biaya produksi.
Kandungan
protein pada biji sorgum juga sangat tinggi, dibandingkan sumber pangan lain
seperti beras, singkong dan jagung, sorgum mempunyai kadar protein yang paling
tinggi. Dibandingkan beras, sorgum juga unggul dari segi kandungan mineral
seperti Ca, Fe, P dan kandungan vitamin B1- nya. Kandungan nutrisi sorghum
dibandingkan dengan produk serealia yang lain ditunjukkan oleh Tabel berikut
ini (Fanindi et.al, 2005).
Kadar
gula (Brix) adalah total padatan terlarut yang mengandung sukrosa, fruktosa,
dan glukosa. Terdapat hubungan antara konsentrasi gula (dalam hal ini sukrosa)
dalam satuan brix dengan kandungan total gula pereduksi (monosakarida: glukosa
dan fruktosa). Konsentrasi gula dalam jus berkorelasi secara linear dengan
total gula pereduksi. Ketika brix kandungan gula mencapai lebih dari 15% maka
mungkin untuk membuat gula berada dalam fasa cair yaitu sirup berkualitas
tinggi. Pada gula sorgum, brix kandungan gula >15% dapat dicapai dengan
mudah. Oleh karena itulah alasan mengapa bentuk gula sorgum adalah sirup bukan
gula padat baik itu kristal seperti gula tebu maupun gula padat seperti gula
merah aren. Untuk mengetahui nilai brix diperlukan suatu alat ukur (Anonim,
2012c).
Batang
sorgum yang menghasilkan nira biasanya hanya digunakan sebagai pakan ternak
belum memiliki nilai ekonomis. Mengingat nira
sorgum mengandung kadar glukosa yang cukup besar karena kualitas nira
sorgum manis setara dengan nira tebu dan belum dimanfaatkan secara maksimal
maka dipandang sangatlah tepat bila dilakukan penelitian yang bertujuan untuk
mendapatkan alkohol dari nira sorgum dengan proses fermentasi (Risvan, 2012).
Nira
adalah cairan yang keluar dari pohon ataupun batang penghasil nira seperti
aren, tebu, lontar, sorgum dan tanaman penghasil nira lainnya. Komposisi nira
dari suatu jenis tanaman dipengaruhi beberapa faktor yaitu antara lain varietas
tanaman, umur tanaman, kesehatan tanaman, keadaan tanah, iklim, pemupukan, dan
pengairan. Demikian pula setiap jenis tanaman mempunyai komposisi nira yang
berlainan dan umumnya terdiri dari air, sukrosa, gula reduksi, bahan organik
lain, dan bahan anorganik. Air dalam nira merupakan bagian yang terbesar yaitu
antara 75 – 90 %. Sukrosa merupakan bagian zat padat yang terbesar berkisar antara
12,30 – 17,40 %. Gula reduksi antara
0,50 – 1,00 % dan sisanya merupakan senyawa organik serta anorganik (Anonim,
2012a).
Gula
reduksi dapat terdiri dari heksosa, glukosa, dan fruktosa, serta mannosa dalam
jumlah yang rendah sekali. Nira sorgum mengandung kadar glukosa yang cukup
besar karena kualitas nira sorgum manis setara dengan nira tebu dan belum
dimanfaatkan. Nira sorgum mengandung kadar
glukosa
yang
cukup besar karena kualitas nira sorgum manis setara dengan nira tebu dan belum
dimanfaatkan (Anonim, 2012a).
Tabel
2. Komposisi Nira Sorgum dan Nira Tebu
|
Komposisi
|
Nira sorgum *)
|
Nira tebu
|
|
Brix (%)
|
13.6 – 18.40
|
12 - 19
|
|
Sukrosa
|
10.0 -14.40
|
9 -17
|
|
Gula reduksi
(%)
|
0,75 – 1,35
|
0,48 – 1,52
|
|
Abu (%)
|
1,28 – 1,57 !!!
|
0,40 – 0,70
|
|
Amilum (ppm)
|
209 – 1764 !!!
|
1,50 - 95
|
|
Asam akonitat
|
0,56 !!
|
0,25
|
Potensi terbesar sejatinya ada di bagian biji,
berdasar penelitian UGM dan rilis Depkes, kandungan gizinya sangat mumpuni.
Nilai proteinnya 11 g per 100 g, jauh lebih oke ketimbang beras dan jagung yang
hanya 6,8 g dan 8,7 g. Begitu juga dengan kalsium dan karbohidratnya,
masing-masing mencapai 28 mg dan 73 g per 100g. Selain itu, diketahui sorgum
juga kaya serat dan mengandung gluten rendah.
Biji sorgum dapat dibuat tepung sebagai bahan
dasar pembuatan penganan. Bahkan setelah dikupas kulitnya, biji sorgum dapat
langsung ditanak layaknya beras dan dikonsumsi. Dengan segala kelebihanya,
tanaman yang juga dikenal dengan nama Hermada ini menjadi alternatif potensial
sumber pangan.
Seperti dilakukan Rien Soedimulyo dengan bendera
Ndari Hermada Indonesia Art di bilangan Klender, Jakarta Timur. Wanita berusia
64 tahun ini memproduksi tepung, “beras”, dan aneka penganan kering serta kue
basah berbahan sorgum. Meski mengaku masih mendapat order berdasar pesanan,
tiap bulan Rien berhasil menjual 6—10 kg tepung sorgum. Ditambah 6—8 kg “beras”
sorgum yang berhasil dipasarkannya ke beberapa karyawan BUMN. Belum lagi kue
kering dan basah yang laris manis saat pameran digelar.
“Memang jumlah pesanan produk sorgum masih kecil karena
masyarakat belum mengerti manfaat sorgum. Yang mereka tahu, sorgum sebagai
bahan pakan, bukan pangan. Padahal nilai gizinya tinggi dan baik bagi penderita
diabetes karena kaya serat serta gluten rendah,” beber Rien yang memulai usaha
sejak 2003.
Harga yang ditawarkan Rien relatif murah. Tepung
misalnya, ia patok Rp10.000 per kg dan beras Rp6.000 per kg. Kue kering dijual
Rp15.000 per toples. Begitu juga kue basah yang dilabeli harga sama. Sedangkan
bubur ayam dan jenang, dibanderol Rp2.000 per cup kecil. “Pemasaran
memang masih menjadi kendala. Tetapi saya yakin ke depan produk sorgum akan
banyak diminati. Menghadapi Ramadhan, saya akan membuat lapak takjil di depan
rumah saya,” ungkap wanita bernama asli Rr. Rindartati ini.
Membuat tepung sorgum tidaklah sulit. Setelah
dikupas kulitnya, biji sorgum kering lalu digiling. “Setelah digiling, saya
harus ayak lagi sampai 8 kali karena hasil penggilingan di pasar ukurannya
masih besar,” ungkap penerima penghargaan LKM Pangan Award, Depdag, Kategori
Inovasi Penggunaan Bahan Baku 2008 itu.
Sedangkan beras sorgum, cara pembuatannya lebih
sederhana. Proses awalnya sama dengan tepung. Hanya saja beras sorgum tidak
digiling, setelah dikupas kulitnya, bisa langsung ditanak.
Sapu, Bunga, dan Pernik
Produk lain adalah kerajinan tangan, di antaranya
hiasan pensil dan kotak perhiasan. Tangkai malai jadi bahan bakunya. “Hiasan
pensil saya jual Rp2.000 per batang, sedangkan kotak perhiasan Rp5.000,” cetus
ibu tiga anak ini.
Bunga sorgum yang tercecer dimanfaatkannya sebagai
bunga kering yang laku dijual Rp10.000 per batang. Dulu, jebolan Sospol UGM ini
juga mengolah batang dan malai sorgum menjadi sapu. Bahkan ia sempat
mengekspornya ke Jepang dengan harga US$5 per unit. Dalam sebulan Rien mengirim
dua kontainer berisi 1.600 unit. Sayang, ekspor sapunya terhenti sejak 2007.
“Sekarang mereka mengambil sapu dari China. Petani kita susah untuk menerapkan
teknologi budidaya, beda dengan petani China. Ujung–ujungnya kualitas bahan
baku lebih baik China,” keluh wanita kelahiran Karanganyar, 1 Desember 1945
ini.
Akar sorgum digunakan sebagai jamu. Berdasar
pengalaman empiris, akar sorgum dapat memperlancar peredaran darah. Akar cukup
diseduh, lalu airnya diminum. Namun Rien belum serius menekuni produk ini.
Mengenai bahan baku, Rien menjalin kemitraan
dengan petani di Gunung Kidul, Yogyakarta, Jatim, dan Nusatenggara Timur. Malai
sorgum yang berisi biji dan tangkai dibelinya seharga Rp3.000 per kg dalam
kondisi kering. Jika basah, harganya Rp2.000 per kg. “Harga daun dan batang
yang digunakan untuk pakan ternak biasanya hanya Rp200 per kg, tetapi saya
tidak beli daunnya,” terangnya.
Dari sisi budidaya, sorgum bukanlah tanaman
rewel. Tumbuh dengan ratun (dapat berproduksi lagi asal akar tak dicabut).
“Kemampuannya bertahan hidup pada lahan kering layak dikembangkan dan menjadi
jawaban krisis pangan,” ujar Rien mengakhiri perbincangan.
BAB III
POHON INDUSTRI SORGUM
BAB
IV
PENJELASAN
POHON INDUSTRI
Dari
pendekatan pohon industri pada bab sebelumnya kita dapat mengetahui apa saja
manfaat dari tanaman sorghum yang dapat kita jadikan sebuah usaha di bidang
pertanian dari mulai batang hingga daunnya dapat kita olah dan menghasilkan
uang, jika kita kreatif dan berinovasi dalam mengolah sorghum jelas akan
menghasilkan barang atau produk yang bernilai ekomonis tinggi.
Pengolahan
pada bagian daun sorgum dapat kita sulap menjadi berbagai macam produk yang
lebih berguna dari pada kita biarkan begitu saja, melihat contoh di NTT yang
notabene penghasil sorghum terbesar di indonesia pada saat panen mereka hanya
mengambil bagian bijinya saja, kemudian ada sebagian masyarakat yang
memanfaatkannya menjadi kompos, pakan ternak, dan biomassa.
Pada
bagian biji ini lah yang sering di manfaatkan oleh masyarakat, pada bagian biji
biasanya kita hanya mengolahnya menjadi makanan pokok, tepung, di jadikan bubur,
sorghum sosoh, Namun bukan berarti tidak ada jenis makanan yang inovatif
menarik dari sorghum, kita dapat mengolahnya menjadi berbagai makanan dan
minuman lainnya berbahan dasar sorghum seperti sirup, tortila, roti, tape, brem padat, biskuit,
pizza dll, nah dengan kita mengolahnya terlebih dahulu menjadi produk yang
menarik dan inovatif kita akan dapat meraup untung yang lebih banyak dari pada
kita hanya menjual sorghum sosohnya saja.
Batang
sorghumyang kelihatannya tidak mempunyai nilai jual, siapa sangka dari batang
kita dapat menghasilkan barang/produk yang berguna bagi kehidupan manusia, dari
penelitian yang dilakukan oleh balitbang pekerbunan cimannggu bogor dari batang
bisa d olah menjadi Nira dan dari nira tersebut di fermentasikan sehingga
menjadi produk seperti gula,bioetanol, minuman
Tangkai
biji dari tanaman sorghum dapat kita jadikan sebuah kerajinan dengan industri
rumahan, pupuk organik yang kita olah terlebih dahulu menjadi kompos.
Sementara dari bagian akar tanamannya pun masi
dapat kita olah dan menghasilkan uang,
Akar sorgum digunakan sebagai jamu. Berdasar pengalaman empiris, akar
sorgum dapat memperlancar peredaran darah. Akar cukup diseduh, lalu airnya
diminum.
LAMPIRAN
BATANG
SORGHUM


BIJI
SORGHUM



HASIL
OLAHAN DARI SORGHUM








Tidak ada komentar:
Posting Komentar