Kamis, 09 Maret 2017

pohon industri



LAPORAN KAJIAN AGRIBISNIS DENGAN PENDEKATAN POHON INDUSTRI



OLEH
WAHYU BAGYAN SUDRAJAT
04.1.15.0745
EKONOMI PERTANIAN
















SEKOLAH TINGGI PENYULUHAN PERTANIAN (STPP)
BOGOR
JURUSAN PENYULUHAN PERTANIAN
2015


BAB I
 KARAKTERISTIK SORGUM

A. Klasifikasi

Kingdom         : Plantae
Subkingdom    : Tracheobionta
Superdivisi      : Spermatophyta
Divisi               : Magnoliophyta
Kelas               : Liliopsida
Subkelas          : Commelinidae
Ordo                : Cyperales
Keluarga          : Poaceae
Genus              : Sorghum Moench
Spesies            : Sorghum bicolor (L.) Moench

B. MORFOLOGI
Genus sorghum terdiri atas 20 atau 32 spesies, berasal dari  Afrika Timur,  satu spesies di antaranya berasal dari Meksiko.  Tanaman ini dibudidayakan di Eropa Selatan, Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Asia Selatan. Di antara spesies-spesies sorgum, yang paling banyak dibudidayakan adalah spesies Sorghum bicolor (L.) Moench. Morfologi tanaman sorgum mencakup akar, batang, daun, tunas, bunga, dan   biji

1. Perakaran
Tanaman sorgum merupakan tanaman biji berkeping satu, tidak membentuk akar tunggang, perakaran hanya terdiri atas akar lateral. Sistem perakaran sorgum terdiri atas akar-akar seminal (akar-akar primer) pada dasar buku pertama pangkal batang, akar skunder dan akar tunjang yang terdiri atas akar koronal (akar pada pangkal batang yang tumbuh ke arah atas) dan akar udara (akar yang tumbuh di permukaan tanah). Tanaman sorgum membentuk perakaran sekunder dua kali lebih banyak dari jagung. Ruang tempat tumbuh akar lateral mencapai kedalaman 1,3-1,8 m, dengan panjang mencapai 10,8 m. Sebagai tanaman yang termasuk kelas monokotiledone, sorgum mempunyai sistem perakaran serabut (Artschwanger 1948, Singh et al. 1997, Rismunandar 2006).
Akar primer adalah akar yang pertama kali muncul pada proses perkecambahan benih yang berkembang dari radikula, berfungsi sebagai alat transportasi air dan nutrisi bagi kecambah dalam tanah. Seiring dengan proses pertumbuhan tanaman pada saat muncul akar sekunder pada ruas pertama, fungsinya segera digantikan oleh akar sekunder (Arthswager 1948, Singh et al. 1997, du Plessis 2008).
Akar skunder berkembang di ruas pertama pada mesokotil di bawah tanah yang kemudian berkembang secara ekstensif yang diikuti oleh matinya akar primer. Pada tahap selanjutnya, akar sekunder berfungsi menyerap air dan unsur hara. Panjang akar ini 5-15 cm. Akar skunder berukuran kecil, seragam, dan hanya sebagian kecil dari sistem perakaran sorgum. Akar skunder lain tumbuh mulai pada ruas kedua dari mesokotil hingga ke atas, yang lebih dikenal sebagai akar permanen. Akar permanen bercabang secara lateral dan masuk ke tanah secara vertikal. Pada tanah yang gembur, akar skunder mampu tumbuh hingga 1 m ke samping dan 2 m ke dalam tanah untuk menyerap nutrisi (Arthswager 1948, Singh et al. 1997, du Plessis 2008).
Akar tunjang berkembang dari primordial buku yang berada kurang dari 1 m. Pada tanaman sorgum, bahkan akar tunjang lebih tinggi dari akar jagung, mencapai 1,2 m di atas permukaan tanah, berfungsi seperti jangkar bagi tanaman. Akar tunjang umumnya berukuran lebih besar dan berwarna lebih gelap jika berada di permukan tanah. Akar tunjang memiliki ukuran dan fungsi yang sama dengan akar normal apabila mencapai tanah. Perakaran tanaman sorgum sanggup menopang pertumbuhan dan perkembangan tanaman ratun hingga dua atau tiga kali lebih kuat, dan menjadikan tanaman toleran kekeringan (House 1985, Arthswager 1948, Singh et al. 1997, du Plessis 2008).

2. Batang
Batang tanaman sorgum merupakan rangkaian berseri dari ruas (internodes) dan buku (nodes), tidak memiliki kambium. Pada bagian tengah batang terdapat seludang pembuluh yang diselubungi oleh lapisan keras (sel-sel parenchym). Tipe batang bervariasi dari solid dan kering hingga sukulen dan manis. Jenis sorgum manis memiliki kandungan gula yang tinggi pada batang gabusnya, sehingga berpotensi dijadikan sebagai bahan baku gula sebagaimana halnya tebu (Hunter and Anderson 1997, Hoeman 2012). Bentuk batang tanaman sorgum silinder dengan diameter pada bagian pangkal berkisar antara 0,5-5,0 cm. Tinggi batang bervariasi, berkisar antara 0,5-4,0 m, bergantung pada varietas (House 1985, Arthswager 1948, du Plessis 2008).
Ruas batang sorgum pada bagian tengah tanaman umumnya panjang dan seragam di banding ruas pada bagian bawah dan atas tanaman. Ruas paling panjang terdapat pada ruas terakhir (ujung tanaman), yang berupa tangkai malai. Permukaan ruas batang sorgum mirip dengan tanaman tebu, yaitu diselimuti oleh lapisan lilin yang tebal, kecuali pada ujung batang. Lapisan lilin paling banyak pada bagian atas dari pelepah daun, yang berfungsi mengurangi transpirasi sehingga sorgum toleran terhadap kekeringan. Buku pada batang sorgum rata dengan ruasnya, pada bagian ini tumbuh akar tunjang dan tunas (Arthswager 1948, du Plessis 2008). Bagian dalam batang sorgum seperti spon setelah tua. Pada kondisi kekeringan, bagian dalam batang sorgum bisa pecah (du Plessis 2008).
Pada tanaman sorgum manis, bagian dalam batang berair (juicy) karena mengandung gula. Kandungan gula pada saat biji masak fisiologis berkisar antara 10-25% (Hunter and Anderson 1997). Kandungan gula pada tanaman sorgum manis merupakan karbohidrat yang dapat terfermentasi (fermentable carbohydrates) 15-23%. Kandungan gula tersebut terdiri atas sukrosa 70%, glukosa 20%, dan fruktosa 10%. Sorgum manis mampu memproduksi biomas 20-50 t/ha (Shoemaker et al. 2010).
Tinggi tanaman sorgum bergantung pada jumlah dan ukuran ruas batang. Sorgum memiliki tinggi rata-rata 2,6-4 m. Pohon dan daun sorgum mirip dengan jagung. Tinggi batang sorgum manis yang dikembangkan di China dapat mencapai 5 m, dan struktur tanaman yang tinggi ideal dikembangkan untuk pakan ternak dan penghasil gula (FAO 2002). Tinggi tanaman sorgum berhubungan erat dengan umur dan jumlah daun, pada tanaman berumur genjah tinggi dan jumlah daun lebih sedikit daripada tanaman  berumur dalam.

3. Tunas
Pada beberapa varietas sorgum, batangnya dapat menghasilkan tunas baru membentuk percabangan atau anakan dan dapat tumbuh menjadi individu baru selain batang utama (House 1985). Ruas batang sorgum bersifat gemmiferous, setiap ruas terdapat satu mata tunas yang bisa tumbuh sebagai anakan atau cabang. Tunas yang tumbuh pada ruas yang terdapat di permukaan tanah akan tumbuh sebagai anakan, sedangkan tunas yang tumbuh pada batang bagian atas menjadi cabang (Arthswager 1948). Pertumbuhan tunas atau anakan bergantung pada varietas dan lingkungan tumbuh tanaman sorgum. Pada suhu kurang dari 180 C memicu munculnya anakan pada fase pertumbuhan daun ke-4 sampai ke-6. Tanaman sorgum tahunan mampu menghasilkan anakan 2-3 kali lebih banyak dari sorgum semusim. Kemampuan menghasilkan anakan dan tunas lebih banyak menjadikan tanaman sorgum bisa dipanen untuk kemudian di ratun (Hunter and Anderson 1997, du Plessis 2008). Cabang pada tanaman sorgum umumnya tumbuh bila batang utama rusak. Jumlah cabang dan anakan bergantung pada varietas, jarak tanam, dan kondisi lingkungan (Arthswager 1948).




4. Daun
Daun merupakan organ penting bagi tanaman, karena fotosintat sebagai bahan pembentuk biomasa tanaman dihasilkan dari proses fotosintesis yang terjadi di daun (Sitompul dan Guritno 1995). Sorgum mempunyai daun berbentuk pita, dengan struktur terdiri atas helai daun dan tangkai daun. Posisi daun terdistribusi secara berlawanan sepanjang batang dengan pangkal daun menempel pada ruas  batang. Panjang daun sorgum rata-rata 1 m dengan penyimpangan 10-15 cm dan lebar 5-13 cm (Arthswager 1948, House 1985). Jumlah daun bervariasi antara 7-40 helai, bergantung pada varietas (Arthswager 1948, Martin 1970, Gardner et al. 1981).
Daun melekat pada buku-buku batang dan tumbuh memanjang, yang terdiri atas pelepah dan helaian daun. Pada pertemuan antara pelepah dan helaian daun terdapat ligula (ligule) dan kerah daun (dewlaps). Helaian daun muda kaku dan tegak, kemudian menjadi cenderung melengkung pada saat tanaman dewasa. Helaian daun berbentuk lanselot, lurus mendatar, berwarna hijau muda hingga hijau tua dengan permukaan mengkilap oleh lapisan lilin. Stomata berada pada permuakaan atas dan bawah daun. Tulang daun lurus memanjang dengan warna bervariasi dari hijau muda, kuning hingga putih, bergantung pada varietas (Arthswager 1948).

Keunikan daun sorgum terdapat pada sel penggerak yang terletak di sepanjang tulang daun. Sel ini dapat menggulung daun secara cepat bila terjadi kekeringan, untuk mengurangi transpirasi. Pelepah daun melekat pada ruas dan menyelimuti batang, agak tebal dan semakin tipis di pinggir, dengan lebar sekitar 25-30 cm atau beragam, bergantung varietas, bagian dalamnya berwarna putih dan mengkilat, sedangkan bagian luar berwarna hijau dan berlapis lilin. Permukaan pelepah licin hingga berambut (Arthswager 1948, du Plessis 2008).
Hasil penelitian Bullard dan York (1985) menunjukkan bahwa banyaknya daun tanaman sorgum berkorelasi dengan panjang periode vegetatif, yang dibuktikan oleh setiap penambahan satu helai daun memerlukan waktu 3- 4 hari. Freeman (1970) menyebutkan bahwa tanaman sorgum juga mempunyai daun bendera (leaf flag) yang muncul paling akhir, bersamaan dengan inisiasi malai.
Daun bendera (flag leaf), merupakan daun yang terakhir (terminal leaf) sebelum muncul malai, memiliki fungsi yang sama sebagai organ fotosintesis dan menghasilkan fotosintat. Daun bendera umumnya lebih pendek dan lebar dari daun-daun pada batang (House 1985). Pelepah daun bendera menyelubungi primordia bunga selama proses perkembangan primordia bunga. Fase ini disebut sebagai fase booting, yang dalam bahasa Indonesia sering di sebut fase bunting. Daun bendera akan membuka oleh dorongan pemanjangan tangkai bunga dan perkembangan bunga dari primordia bunga menjadi bunga sempurna yang siap untuk mekar. Pelepah dan daun bendera di lapisi oleh lapisan lilin yang tebal (Singh et al. 1997). Daun bendera muda bentuknya kaku dan tegak dan akan melengkung seiring dengan  fase  penuaan daun.

5. Bunga
Rangkaian bunga sorgum berada pada malai di bagian ujung tanaman. Sorgum merupakan tanaman hari pendek, pembungaan dipicu oleh periode penyinaran pendek dan suhu tinggi (Pedersen et al. 1998). Bunga sorgum merupakan bunga tipe panicle/malai (susunan bunga di tangkai) (Hunter and Anderson 1997). Bunga sorgum secara utuh terdiri atas tangkai malai (peduncle), malai (panicle), rangkaian bunga (raceme), dan bunga (spikelet).
Tangkai malai (peduncle) merupakan ruas paling ujung (terminal internode) yang menopang malai dan paling panjang, yang terdapat pada batang sorgum. Tangkai malai memanjang seiring dengan perkembangan malai, dan mendorong malai keluar dari pelepah daun bendera. Ukuran panjang  tangkai malai   beragam,  bergantung varietas. Pada beberapa varietas, tangkai malai pendek dan tertutup oleh  pelepah daun bendera  dan berbentuk lurus atau melengkung (House 1985, Singh et al. 1997). Bagian dari tangkai malai/peduncle terlihat di antara pangkal malai/panicle dengan pelepah daun bendera yang disebut leher malai/ exsertion. Panjang leher malai beragam, berkisar antara < 5,1 - > 20 cm (Singh et al. 1997, PPV and FRA 2007).
Malai (panicle) pada sorgum tersusun atas tandan primer, sekunder, dan tersier (Gambar 1). Susunan percabangan pada malai semakin ke atas semakin rapat, membentuk raceme yang longgar atau kompak, bergantung pada panjang poros malai, panjang tandan, jarak percabangan tandan dan kerapatan spikelet (Gambar 2). Ukuran malai beragam dengan panjang berkisar antara 4-50 cm dan lebar 2-20 cm (House 1985, Magness et al. 1971, Dicko et al. 2006). Malai tanaman sorgum beragam, bergantung pada varietas dan dapat dibedakan berdasarkan posisi, kerapatan, dan bentuk. Berdasarkan posisi, malai sorgum ada yang tegak, miring dan melengkung; sedangkan berdasarkan kerapatan, malai sorgum ada yang kompak, longgar, dan intermedier. Berdasarkan bentuk, malai ada yang oval, silinder, elip, seperti seruling, dan kerucut (Martin 1970). Pada sorgum tipe liar, bentuk malai  cenderung raceme terbuka (Hunter and Anderson 1997).


6. Biji
Biji sorgum yang merupakan bagian dari tanaman memiliki ciri-ciri fisik berbentuk bulat (flattened spherical) dengan berat 25-55 mg (Dicko et al. 2006). Biji sorgum berbentuk butiran dengan ukuran 4,0 x 2,5 x 3,5 mm. Berdasarkan bentuk dan ukurannya, sorgum dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu biji berukuran kecil (8-10 mg), sedang (12-24 mg), dan besar (25-35 mg). Biji sorgum tertutup sekam dengan warna coklat muda, krem  atau putih, bergantung pada varietas (Mudjisihono dan Suprapto 1987). Biji sorgum terdiri atas tiga bagian utama, yaitu  lapisan luar  (coat), embrio (germ), dan   endosperm  (Gambar 7).
Bagian lapisan luar biji sorgum terdiri atas hilum dan perikarp yang mengisi 7,3-9,3% dari bobot biji (du Plessis 2008). Hilum berada pada bagian dasar biji. Hilum akan berubah warna menjadi gelap/hitam pada saat biji memasuki fase masak fisiologis (House 1985). Perikarp terdiri atas lapisan mesokarp dan endocarp. Mesokarp merupakan lapisan tengah  dan  cukup tebal, berbentuk polygonal, dan mengandung sedikit granula pati. Endokarp tersusun dari sel yang melintang dan berbentuk tabung, pada endokarp terdapat testa dan  aleuron. Pada lapisan ini terdapat senyawa fenolik  (Dicko et al. 2005, du Plessis 2008).
Lapisan testa bersifat padat dan rapat. Ketebalan lapisan testa bervariasi untuk setiap varietas, biasanya paling tebal pada puncak biji dan yang tertipis terdapat di dekat lembaga. Ketebalan testa di puncak biji berkisar antara 100-140 μm, dan yang paling tipis berukuran 10-30 μm. Lapisan aleuron terdapat di atas permukaan endosperma biji. Warna biji dipengaruhi oleh warna dan ketebalan kulit (pericarp), terdapatnya testa serta tekstur dan warna endosperm. Warna pada testa adalah  akibat adanya tanin  (Hahn and Rooney 1986, Waniska 2000, Earp et al. 2004, du Plessis 2008). Tanin berasa pahit dan bersifat malnutrisi sehingga tidak disukai oleh burung dan

BAB II
MANFAAT EKONOMI TANAMAN SORGUM

1)      Sorgum sebagai bahan pangan
Sorgum dapat dimanfaatkan sebagai butir beras sorgum dan tepung sorgum. Beras sorgum bisa langsung ditanak sebagai nasi sorgum, atau digiling dijadikan tepung sorgum sebagai bahan dasar kue. Selain itu dapat dijadikan penganan jajan pasar berupa tapai, wajik, lemper, rengginang, dan sebagainya.
2)      Sorgum sebagai bahan baku boietanol
Batang sorgum dapat dijadikan bahan baku untuk membuat bioetanol. Dengan melalui proses fermentasi, hingga proses destilasi. Sorgum merupakan tanaman yang memiliki banyak manfaat sebagai bahan pangan, pakan ternak dan bahan bakar alternatif. Sorgum memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi dibanding bahan pangan yang lainnya sehingga cukup potensial sebagai bahan pangan pengganti beras. Bahan Pangan Kalori (kal) Protein (g) Lemak (g) Karbohidrat (g) Air (%) Serat (%) Ca (mg) P (mg) Fe (mg) Sorgum 332 11 3,30 73 11,20 2,30 28 287 4,40 Beras 360 7 6,70 79 9,80 1 6 147 0,80 Jagung 361 9 4,50 72 13,50 2,70 9 380 4,60 Sumber (Beti, dkk. 1990) Daun dan batang segar dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Setiap ekor sapi mengkonsumsi rata-rata 15 kg daun segar/hari. Batang dan daun sorgum dapat dimanfaatkan untuk membuat etanol, batangnya dihancurkan dan menghasilkan cairan manis, kemudian difermentasi dan selanjutnya dilakukan pemurnian untuk mendapatkan bioetanol.

3)      Sorgum sebagai pakan
Tanaman Sorgum dapat dijadikan ransum makanan bagi ternak sebagai pengganti jagung kuning, terutama untuk ayam, karena biji sorgum memiliki harga yang lebih murah daripada jagung kuning sehingga dapat menekan biaya produksi.
Kandungan protein pada biji sorgum juga sangat tinggi, dibandingkan sumber pangan lain seperti beras, singkong dan jagung, sorgum mempunyai kadar protein yang paling tinggi. Dibandingkan beras, sorgum juga unggul dari segi kandungan mineral seperti Ca, Fe, P dan kandungan vitamin B1- nya. Kandungan nutrisi sorghum dibandingkan dengan produk serealia yang lain ditunjukkan oleh Tabel berikut ini (Fanindi et.al, 2005).
Kadar gula (Brix) adalah total padatan terlarut yang mengandung sukrosa, fruktosa, dan glukosa. Terdapat hubungan antara konsentrasi gula (dalam hal ini sukrosa) dalam satuan brix dengan kandungan total gula pereduksi (monosakarida: glukosa dan fruktosa). Konsentrasi gula dalam jus berkorelasi secara linear dengan total gula pereduksi. Ketika brix kandungan gula mencapai lebih dari 15% maka mungkin untuk membuat gula berada dalam fasa cair yaitu sirup berkualitas tinggi. Pada gula sorgum, brix kandungan gula >15% dapat dicapai dengan mudah. Oleh karena itulah alasan mengapa bentuk gula sorgum adalah sirup bukan gula padat baik itu kristal seperti gula tebu maupun gula padat seperti gula merah aren. Untuk mengetahui nilai brix diperlukan suatu alat ukur (Anonim, 2012c).

Batang sorgum yang menghasilkan nira biasanya hanya digunakan sebagai pakan ternak belum memiliki nilai ekonomis. Mengingat nira  sorgum mengandung kadar glukosa yang cukup besar karena kualitas nira sorgum manis setara dengan nira tebu dan belum dimanfaatkan secara maksimal maka dipandang sangatlah tepat bila dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan alkohol dari nira sorgum dengan proses fermentasi (Risvan, 2012).
Nira adalah cairan yang keluar dari pohon ataupun batang penghasil nira seperti aren, tebu, lontar, sorgum dan tanaman penghasil nira lainnya. Komposisi nira dari suatu jenis tanaman dipengaruhi beberapa faktor yaitu antara lain varietas tanaman, umur tanaman, kesehatan tanaman, keadaan tanah, iklim, pemupukan, dan pengairan. Demikian pula setiap jenis tanaman mempunyai komposisi nira yang berlainan dan umumnya terdiri dari air, sukrosa, gula reduksi, bahan organik lain, dan bahan anorganik. Air dalam nira merupakan bagian yang terbesar yaitu antara 75 – 90 %. Sukrosa merupakan bagian zat padat yang terbesar berkisar antara 12,30 – 17,40    %. Gula reduksi antara 0,50 – 1,00 % dan sisanya merupakan senyawa organik serta anorganik (Anonim, 2012a).
Gula reduksi dapat terdiri dari heksosa, glukosa, dan fruktosa, serta mannosa dalam jumlah yang rendah sekali. Nira sorgum mengandung kadar glukosa yang cukup besar karena kualitas nira sorgum manis setara dengan nira tebu dan belum dimanfaatkan. Nira sorgum mengandung kadar  glukosa
yang cukup besar karena kualitas nira sorgum manis setara dengan nira tebu dan belum dimanfaatkan (Anonim, 2012a).
Tabel 2. Komposisi Nira Sorgum dan Nira Tebu

Komposisi
Nira sorgum *)
Nira tebu
Brix (%)
13.6 – 18.40
12 - 19
Sukrosa
10.0 -14.40
9 -17
Gula reduksi (%)
0,75 – 1,35
0,48 – 1,52
Abu (%)
1,28 – 1,57 !!!
0,40 – 0,70
Amilum (ppm)
209 – 1764 !!!
1,50 - 95
Asam akonitat
0,56 !!
0,25
Potensi terbesar sejatinya ada di bagian biji, berdasar penelitian UGM dan rilis Depkes, kandungan gizinya sangat mumpuni. Nilai proteinnya 11 g per 100 g, jauh lebih oke ketimbang beras dan jagung yang hanya 6,8 g dan 8,7 g. Begitu juga dengan kalsium dan karbohidratnya, masing-masing mencapai 28 mg dan 73 g per 100g. Selain itu, diketahui sorgum juga kaya serat dan mengandung gluten rendah.
Biji sorgum dapat dibuat tepung sebagai bahan dasar pembuatan penganan. Bahkan setelah dikupas kulitnya, biji sorgum dapat langsung ditanak layaknya beras dan dikonsumsi. Dengan segala kelebihanya, tanaman yang juga dikenal dengan nama Hermada ini menjadi alternatif potensial sumber pangan.
Seperti dilakukan Rien Soedimulyo dengan bendera Ndari Hermada Indonesia Art di bilangan Klender, Jakarta Timur. Wanita berusia 64 tahun ini memproduksi tepung, “beras”, dan aneka penganan kering serta kue basah berbahan sorgum. Meski mengaku masih mendapat order berdasar pesanan, tiap bulan Rien berhasil menjual 6—10 kg tepung sorgum. Ditambah 6—8 kg “beras” sorgum yang berhasil dipasarkannya ke beberapa karyawan BUMN. Belum lagi kue kering dan basah yang laris manis saat pameran digelar.
“Memang jumlah pesanan produk sorgum masih kecil karena masyarakat belum mengerti manfaat sorgum. Yang mereka tahu, sorgum sebagai bahan pakan, bukan pangan. Padahal nilai gizinya tinggi dan baik bagi penderita diabetes karena kaya serat serta gluten rendah,” beber Rien yang memulai usaha sejak 2003.
Harga yang ditawarkan Rien relatif murah. Tepung misalnya, ia patok Rp10.000 per kg dan beras Rp6.000 per kg. Kue kering dijual Rp15.000 per toples. Begitu juga kue basah yang dilabeli harga sama. Sedangkan bubur ayam dan jenang, dibanderol Rp2.000 per cup kecil. “Pemasaran memang masih menjadi kendala. Tetapi saya yakin ke depan produk sorgum akan banyak diminati. Menghadapi Ramadhan, saya akan membuat lapak takjil di depan rumah saya,” ungkap wanita bernama asli Rr. Rindartati ini.
Membuat tepung sorgum tidaklah sulit. Setelah dikupas kulitnya, biji sorgum kering lalu digiling. “Setelah digiling, saya harus ayak lagi sampai 8 kali karena hasil penggilingan di pasar ukurannya masih besar,” ungkap penerima penghargaan LKM Pangan Award, Depdag, Kategori Inovasi Penggunaan Bahan Baku 2008 itu.
Sedangkan beras sorgum, cara pembuatannya lebih sederhana. Proses awalnya sama dengan tepung. Hanya saja beras sorgum tidak digiling, setelah dikupas kulitnya, bisa langsung ditanak.
Sapu, Bunga, dan Pernik
Produk lain adalah kerajinan tangan, di antaranya hiasan pensil dan kotak perhiasan. Tangkai malai jadi bahan bakunya. “Hiasan pensil saya jual Rp2.000 per batang, sedangkan kotak perhiasan Rp5.000,” cetus ibu tiga anak ini.
Bunga sorgum yang tercecer dimanfaatkannya sebagai bunga kering yang laku dijual Rp10.000 per batang. Dulu, jebolan Sospol UGM ini juga mengolah batang dan malai sorgum menjadi sapu. Bahkan ia sempat mengekspornya ke Jepang dengan harga US$5 per unit. Dalam sebulan Rien mengirim dua kontainer berisi 1.600 unit. Sayang, ekspor sapunya terhenti sejak 2007. “Sekarang mereka mengambil sapu dari China. Petani kita susah untuk menerapkan teknologi budidaya, beda dengan petani China. Ujung–ujungnya kualitas bahan baku lebih baik China,” keluh wanita kelahiran Karanganyar, 1 Desember 1945 ini.
Akar sorgum digunakan sebagai jamu. Berdasar pengalaman empiris, akar sorgum dapat memperlancar peredaran darah. Akar cukup diseduh, lalu airnya diminum. Namun Rien belum serius menekuni produk ini.
Mengenai bahan baku, Rien menjalin kemitraan dengan petani di Gunung Kidul, Yogyakarta, Jatim, dan Nusatenggara Timur. Malai sorgum yang berisi biji dan tangkai dibelinya seharga Rp3.000 per kg dalam kondisi kering. Jika basah, harganya Rp2.000 per kg. “Harga daun dan batang yang digunakan untuk pakan ternak biasanya hanya Rp200 per kg, tetapi saya tidak beli daunnya,” terangnya.
Dari sisi budidaya, sorgum bukanlah tanaman rewel. Tumbuh dengan ratun (dapat berproduksi lagi asal akar tak dicabut). “Kemampuannya bertahan hidup pada lahan kering layak dikembangkan dan menjadi jawaban krisis pangan,” ujar Rien mengakhiri perbincangan. 















BAB III
POHON INDUSTRI SORGUM

 




BAB IV
PENJELASAN POHON INDUSTRI
Dari pendekatan pohon industri pada bab sebelumnya kita dapat mengetahui apa saja manfaat dari tanaman sorghum yang dapat kita jadikan sebuah usaha di bidang pertanian dari mulai batang hingga daunnya dapat kita olah dan menghasilkan uang, jika kita kreatif dan berinovasi dalam mengolah sorghum jelas akan menghasilkan barang atau produk yang bernilai ekomonis tinggi.
Pengolahan pada bagian daun sorgum dapat kita sulap menjadi berbagai macam produk yang lebih berguna dari pada kita biarkan begitu saja, melihat contoh di NTT yang notabene penghasil sorghum terbesar di indonesia pada saat panen mereka hanya mengambil bagian bijinya saja, kemudian ada sebagian masyarakat yang memanfaatkannya menjadi kompos, pakan ternak, dan biomassa.
Pada bagian biji ini lah yang sering di manfaatkan oleh masyarakat, pada bagian biji biasanya kita hanya mengolahnya menjadi makanan pokok, tepung, di jadikan bubur, sorghum sosoh, Namun bukan berarti tidak ada jenis makanan yang inovatif menarik dari sorghum, kita dapat mengolahnya menjadi berbagai makanan dan minuman lainnya berbahan dasar sorghum seperti sirup,  tortila, roti, tape, brem padat, biskuit, pizza dll, nah dengan kita mengolahnya terlebih dahulu menjadi produk yang menarik dan inovatif kita akan dapat meraup untung yang lebih banyak dari pada kita hanya menjual sorghum sosohnya saja.
Batang sorghumyang kelihatannya tidak mempunyai nilai jual, siapa sangka dari batang kita dapat menghasilkan barang/produk yang berguna bagi kehidupan manusia, dari penelitian yang dilakukan oleh balitbang pekerbunan cimannggu bogor dari batang bisa d olah menjadi Nira dan dari nira tersebut di fermentasikan sehingga menjadi produk seperti gula,bioetanol, minuman
Tangkai biji dari tanaman sorghum dapat kita jadikan sebuah kerajinan dengan industri rumahan, pupuk organik yang kita olah terlebih dahulu menjadi kompos.
Sementara dari bagian akar tanamannya pun masi dapat kita olah dan menghasilkan uang,  Akar sorgum digunakan sebagai jamu. Berdasar pengalaman empiris, akar sorgum dapat memperlancar peredaran darah. Akar cukup diseduh, lalu airnya diminum.







LAMPIRAN
BATANG SORGHUM
BIJI SORGHUM
HASIL OLAHAN DARI SORGHUM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar