BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Ubi
jalar merupakan sumber karbohidrat yang dapat dipanen pada umur 3 – 8 bulan.
Selain karbohidrat, ubijalar juga mengandung vitamin A,C dan mineral serta
antosianin yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Disamping itu, ubi jalar
tidak hanya digunakan sebagai bahan pangan tetapi juga sebagai bahan baku
industri dan pakan ternak seperti di indonesia.
Indonesia merupakan negara agraris yang
mayoritas mata pencaharian penduduknya adalah petani. Dengan beragam kekayaan
alam Indonesia menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang kaya akan
sumber daya alamnya. Indonesia juga merupakan negara di urutan ke-3 dengan
jumlah penduduk terbanyak di dunia. Dengan banyaknya penduduk di suatu negara
maka kebutuhan pangannya semakin meningkat
Di
Indonesia, ubi jalar umumnya sebagai bahan pangan sampingan. Sedangkan di Irian
Jaya, ubi jalar digunakan sebagai makanan pokok. Komoditas ini ditanam baik
pada lahan sawah maupun lahan tegalan. Luas panen ubu jalar diindonesia sekitar
230.000 ha dengan produktivitas sekitar 10 ton/ha. Padahal dengan teknologi
maju beberapa varietas unggul ubi jalar dapat menghasilkan lebih dari 30 ton
umbi basah/ha.
1.2
Tujuan
Tujuan kegiatan paktikum teknik
produksi tanaman ubi jalar adalah sebagai berikut :
1.
Mahasiswa dapat mengetahui dan
mengamati pertumbuhan tanaman ubi jalar mulai dari
persiapan penanaman hingga panen.
2.
Mahasiswa dapat mengetahui teknik
budidaya dan mengidentifikasi hama penyakit pada tanaman ubi jalar secara
langsung dilapangan.
3.
Mahasiswa dapat mengetahui
faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ubi jalar.
4.
Sebagai bahan perbandingan antara teori
yang didapat dikelas dengan praktikum dilapangan.
Mahasiswa dapat menganalisis kelebihan dan kelemahan
teknis pengelolaan budidaya ubi
jalar.
1.3
Manfaat
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari laporan ini
adalah :
-
Dapat menjadi sumber informasi ilmiah bagi mahasiswa
jurusan penyuluhan pertanian STPP Bogor.
-
Dapat memberikan informasi bagi mahasiswa dalam
mengamati pertumbuhan dan perkembangan hingga panen Ubi jalar melalui teknik
budidaya yang diterapkan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 morfologi Tanaman Ubi Jalar

Gambar.1 Ubi
Jalar (Ipomoea batatas.L)
Ubi jalar atau ketela
rambat dengan nama latin Ipomoea batatas .
L. merupakan salah satu tanaman pangan yang banyak dibudidayakan oleh petani
Indonesia, khususnya petani di Jawa Barat. Bagian yang dimanfaatkan adalah
bagian akarnya yang membentuk umbi dengan kadar gizi (karbohidrat) yang tinggi.
Di Afrika, ubi jalar merupakan sumber makanan pokok yang penting. Di Asia
sendiri ubi jalar selain di manfaatkan umbinya daun muda ubi jalar juga dibuat
sayuran. Tak sedikit pula tanaman ubi jalar yang dijadikan tanaman hias.
Tabel berikut ini adalah klasifikasi ilmiah dari tanaman ubi
jalar yaitu :
Tabel.1
Taksonomi Tanaman Ubi Jalar
|
Kingdom
|
Plantae
|
|
Divisi
|
Spermatophyta
|
|
Subdivisi
|
Angiospermae
|
|
Kelas
|
Dicotyledone
|
|
Ordo
|
Convolvulales
|
|
Famili
|
Convolvulaceae
|
|
Genus
|
Ipomea
|
|
Spesies
|
Ipomea batatas L. Sin. Batatas edulis
Choisy.
|
Tanaman ubi jalar ini berasal dari Amerika Selatan. Tanaman ini
dapat dibudidayakan melalui stolon atau batang rambatnya. Cara menanamnya mudah,
dengan mencangkul lahan yang akan ditanami sehingga stolon atau batang
rambatnya mudah dimasukkan ke dalam tanah. Ubi jalar akan tumbuh dengan mudah
di lahan yang terkena matahari langsung.
Pemeliharaan gulma di sekitar tanaman untuk mengurangi persaingan
pendapatan unsur hara dari tanah serta pemberian pupuk urea atau pupuk organic
akan menambah hasil panen yang lebih bagus. Tanaman ubi jalar ini termasuk
tumbuhan semusim yang memiliki susunan tubuh utama terdiri dari batang, ubi,
daun, bunga dan buah.
a) Batang
Ubi
jalar berbatang lunak, tidak berkayu, berbentuk bulat, dan teras bagian tengah
bergabus. Batang ubi jalar beruas-ruas dan panjang ruas antara 1-3 cm. setiap
ruas ditumbuhi daun, akar, dan tunas atau cabang. Panjang batang utama amat beragam,
tergantung pada varietasnya, yakni berkisar 2-3 m untuk varietas ubi jalar
merambat dan 1-2 m untuk varietas ubi jalar tidak merambat (bertipe tegak).
Diameter batang ubi jalar juga bervariasi, tergantung pada varietasnya, ada
yang berukuran besar, sedang, dan kecil. Warna batang ubi jalar bervariasi
antara hijau dan ungu.

b) Ubi
Lonjong dengan permulaan yang rata da nada yang tidak rata
merupakan bentuk dari ubi dari tanaman ubi jalar. Bentuk ubi yang ideal adalah
lonjong agak panjang dengan berat antara 200gr-250gr per ubi. Kulit ubi
biasanya berwarna putih, kuning dan ungu kemerahan. Struktur kulit ubi ini
antara yang tipis dan yang tebal dan biasanya memiliki getah.
Umbi
tanaman ubi jalar merupakan bagian yang dimanfaatkan untuk bahan makanan. Umbi
tanaman ubi jalar memiliki mata tunas yang dapat tumbuh menjadi tanaman baru.
Umbi tanaman ubi jalar ini terjadi karena adanya proses diferensiasi akar
sebagai akibat terjadinya penimbunan asimilat dari daun yang berbentuk umbi
c) Daun
Daun ubi jalar berbentuk bulat hati, bulat lonjong dan
bulat runcing, tergantung pada varietasnya. Daun ubi jalar yang berbentuk bulat
hati memiliki tepi daun ratya, berlekuk dangkal atau menjari. Daun ubi jalar
yang berbentuk bulat lonjong (oval) memiliki tepi daun rata, berlekuk dangkal,
atau berlekuk dalam. Sedangkan daun ubi jalar yang berbentuk bulat runcing
memiliki tepi daun rata, berlekuk dangkal atau berlekuk dalam. Dalam satu
tanaman daun Ubi jalar berjumlah banyak, berwarna hijau tua dan hijau kuning
dengan warna tangkai daun dan tulang daun bervariasi sesuai dengan warna
batangnya.
d) Bunga

e) Buah
Buah ubi jalar berbentuk bulat berkotak tiga, berkulit
keras, dan berbiji serta akan tumbuh setelah terjadi penyerbukan.
Didalam buah banyak berisi biji yang sangat ringan yang dapat digunakan untuk
perbanyakan atau pembiakan tanaman secara generatif unutk menghasilkan varietas
Ubi jalar yang baru. (Widodo, dalam Juanda Dede dan Bambang Cahyono 2000)
2.2 Varietas
Terdapat
5 varietas unggul yang dilepas sejak tahun 1990 hingga 2001. Varietas-varietas
ini selain mempunyai produktivitas tinggi, juga mempunya sifat tahan terhadap
hama boleng Cylas formicarius dan penyakit kudis shaceloma batatas.Untuk
menjaga potensi hasil, bibit yang ditanam harus berkualitas. Bibit dapat
diperoleh dari umbi sehat yang disemai dan kemudian diambil tunasnya 5 varietas
ubi jalar antara lain :
BAB III
PELAKSANAAN KEGIATAN
3.1 Waktu dan Tempat
Waktu pelaksanaan praktikum dimulai
pada hari Selasa, 18 September 2012 sampai 8
Januari 2013. Tempat pelaksanaan praktikum adalah lahan
praktik
hartikultura STPP Bogor Jurusan
Penyuluhan Pertanian
3.2 Alat dan Bahan
1. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum
ini seperti :
a.
Cangkul
b.
Alat tulis menulis
c.
Parang
d.
Penggaris
e.
Neraca/Timbangan
f.
Meteran
g.
Ember
h.
Kored, dll.
2. Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam
praktikum seperti :
a.
Benih ubi jalar varietas Bit, Inul dan
Kuning
b.
Ajir
c.
Tali rafia
d.
Pupuk kandang
e.
Pupuk anorganik : Urea, SP36 dan KCL
3.3 Teknik Budidaya
Kegiatan praktek usaha budidaya tanaman ubi jalar meliputi kegiatan :
1.
Pemilihan
bibit
Bibit adalah faktor yang penting dalam rangkaian
budidaya tanaman karena merupakan awal kehidupan tanaman yang bersangkutan. Bibit yang digunakan dalam kegiatan praktik adalah ubi
jalar varietas Bit, Kuning dan Inul. Bibit ubi
jalar yang ditanam tidak dilakukan
persemaian terlebih dahulu karena bibit hasil stekan yang ditanam langsung ke lapangan.
2.
Pengolahan
tanah
Pengolahan
tanah bertujuan untuk memperbaiki sifat fisik tanah dan memberantas tumbuhnya
gulma serta untuk memberikan kondisi yang lebih baik bagi pertumbuhan dan
perkembangan tanaman jagung. Pengolahan tanah untuk tanaman dilakukan pada
tanggal 18 September 2012.
Penyiapan
lahan ditujukan untuk menciptakan media tumbuh yang gembur dan subur. Tanah dan
diolah dan dibuat guludan dengan lebar 40 – 60 cm dan tinggi 25- 30 cm.
Ukuran lahan praktikum ubi jalar kelompok II adalah 31,82 m2 (lebar
4,30 meter dan panjang 7,40 meter). Langkah-langkah pelaksanaan pengolahan tanah di
lapangan yaitu :
a.
Membersihkan
lahan dari rumput-rumput/gulma, dan sisa-sisa tanaman sebelumnya.
b.
Membalikan dan meratakan tanah hasil
bajak traktor hingga menjadi gembur.
c.
Membuat
selokan ± 25 cm di sekitar lahan supaya air tidak menggenang (drainase baik).
3.
Penanaman
Penanaman ubi jalar
dilakukan pada tanggal 25 September 2012. Jarak tanam antar
barisan yang digunakan adalah 25 cm. Dengan
luas lahan 31,82 m2 maka diperoleh jumlah populasi tanaman ubi jalar
adalah :
Populasi Tanaman = Luas
lahan
Jarak Tanam
= 8 m2
100 cm x 25 cm
= 32
tanaman
Pananaman ubi
jalar dilakukan di hari yang sama juga dengan tiga tahap sebelumnya penanaman
ubi jalar ini ada beberapa tipe yakni
1)
Ditidurkan
Akar akan tumbuh
dari ruas sehingga hasilnya akan rata banyak ¾ bagian tanaman ubi jalar
tertanam didalam tanah seperti pada gamar di bawah ini
2)
di miringkan
Ujung dari
tanaman umbi cenderung lebih besar umbinya 2/4 bagian tanaman ubi jalar
terbenam di dalam tanah seperti pada
gamar di bawah ini
3)
di
tegakkan
Kemungkinan umbi
akan sedikit karena hanya bagian ujungnya saja yang terbenam dalam tanah kira
kira tau ± ¼ tanaman ubi jalar yang masuk atau dibenamkan di dalam tanah
seperti pada gambar di bawah ini
4.
Pemupukan
Pemupukan
diberikan bersamaan dengan penanaman ubi jalar. Pupuk yang diberikan sebagai pupuk adalah : pupuk Urea, Sp36 dan
KCl dengan dosis pupuk Urea 100-150 kg/ha untuk 3 kali pemupukan, SP36 100
kg/ha untuk 1 kali pemupukan dan KCL 100 kg/ha untuk 3
kali pemupukan.
5.
Pemeliharaan
Pemeliharaan
tanaman ubi jalar meliputi :
a.
Penyulaman
Penyulaman seharusnya
dilakukan pada umur 1 –2 minggu setelah tanam, pada tanggal 2 Oktober 2012. Penyulaman bertujuan
untuk menggantikan tanaman yang tidak tumbuh atau mati sehingga populasi yang
diharapkan dapat tercapai.
b.
Penyiangan dan pembumbunan
Pada
prinsipnya ubi jalar harus bebas dari gulma dan genangan air,
karena gulma dan air yang menggenang dapat
menekan hasil. Penyiangan bertujuan untuk mengendalikan gulma yang tidak
diinginkan. Gulma dapat mulai tumbuh di lahan pada saat tanaman berumur 3
minggu setelah tanam. Untuk itu, supaya pertumbuhan tanaman optimal maka
penyiangan dilakukan sesering mungkin dan dilakukan sebelum pemupukan. Selain itu
saluran drainase diusahakan agar tetap baik agar produksi baik.
Pembumbuman dilakukan bersamaan dengan penyiangan dan pemupukan untuk menutup
akar di atas permukaan tanah karena adanya aerasi.
Pembumbuman dilakukan dengan cara tanah di sebelah kanan dan kiri barisan
tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian
ditimbun di barisan tanaman sehingga terbentuk guludan yang memanjang.
c. Pengendalian hama dan penyakit
1)
Hama
a) Penggerek Batang Ubi Jalar
Stadium hama yang merusak tanaman ubi jalar
adalah larva (ulat). Cirinya adalah membuat lubang kecil memanjang (korek) pada
batang hingga ke bagian ubi. Di dalam lubang tersebut dapat ditemukan larva
(ulat).
Gejala: terjadi pembengkakan batang,
beberapa bagian batang mudah patah, daun-daun menjadi layu, dan akhirnya
cabang-cabang tanaman akan mati.
Pengendalian: (1) rotasi tanaman untuk
memutus daur atau siklus hama; (2) pengamatan tanaman pada stadium umur muda
terhadap gejala serangan hama: bila serangan hama >5 %, perlu dilakukan
pengendalian secara kimiawi; (3) pemotongan dan pemusnahan bagian tanaman yang
terserang berat; (4) penyemprotan insektisida yang mangkus dan sangkil, seperti
Curacron 500 EC atau Matador 25 dengan konsentrasi yang dianjurkan.
b) Hama Boleng atau Lanas
Serangga dewasa hama ini (Cylas formicarius
Fabr.) berupa kumbang kecil yang bagian sayap dan moncongnya berwarna biru,
namun toraknya berwarna merah. Kumbang betina dewasa hidup pada permukaan daun
sambil meletakkan telur di tempat yang terlindung (ternaungi). Telur menetas
menjadi larva (ulat), selanjutnya ulat akan membuat gerekan (lubang kecil) pada
batang atau ubi yang terdapat di permukaan tanah terbuka.
Gejala: terdapat lubang-lubang kecil bekas
gerekan yang tertutup oleh kotoran berwarna hijau dan berbau menyengat. Hama
ini biasanya menyerang tanaman ubi jalar yang sudah berubi. Bila hama terbawa
oleh ubi ke gudang penyimpanan, sering merusak ubi hingga menurunkan kuantitas
dan kualitas produksi secara nyata.
Pengendalian:(1) pergiliran atau rotasi
tanaman dengan jenis tanaman yang tidak sefamili dengan ubi jalar, misalnya
padi-ubi jalar-padi; (2) pembumbunan atau penimbunan guludan untuk menutup ubi
yang terbuka; (3) pengambilan dan pemusnahan ubi yang terserang hama cukup
berat; (4) pengamatan/monitoring hama di pertanaman ubi jalar secara periodik:
bila ditemukan tingkat serangan > 5 %, segera dilakukan tindakan
pengendalian hama secara kimiawi; (5) penyemprotan insektisida yang mangkus dan
sangkil, seperti Decis 2,5 EC atau Monitor 200 LC dengan konsentrasi yang
dianjurkan; (6) penanaman jenis ubi jalar yang berkulit tebal dan bergetah
banyak; (7) pemanenan tidak terlambat untuk mengurangi tingkat kerusakan yang
lebih berat.
c) Tikus (Rattus rattus sp)
Hama tikus biasanya menyerang tanaman ubi
jalar yang berumur cukup tua atau sudah pada stadium membentuk ubi. Hama Ini
menyerang ubi dengan cara mengerat dan memakan daging ubi hingga menjadi rusak
secara tidak beraturan. Bekas gigitan tikus menyebabkan infeksi pada ubi dan
kadang-kadang diikuti dengan gejala pembusukan ubi.
Pengendalian: (1) sistem gerepyokan untuk
menangkap tikus dan langsung dibunuh; (2) penyiangan dilakukan sebaik mungkin
agar tidak banyak sarang tikus disekitar ubi jalar; (3) pemasangan umpan
beracun, seperti Ramortal atau Klerat.
2)
Penyakit
a) Kudis atau Scab
Penyebab:cendawan Elsinoe batatas.
Gejala:adanya benjolan pada tangkai sereta
urat daun, dan daun-daun berkerut seperti kerupuk. Tingkat serangan yang berat
menyebabkan daun tidak produktif dalam melakukan fotosintesis sehingga hasil
ubi menurun bahkan tidak menghasilkan sama sekali.
Pengendalian:(1) pergiliran/rotasi tanaman
untuk memutus siklus hidup penyakit; (2) penanaman ubi jalar bervarietas tahan
penyakit kudis, seperti daya dan gedang; (3) kultur teknik budi daya secara
intensif; (4) penggunaan bahan tanaman (bibit) yang sehat.
b) Layu Fusarium
Penyebab:
jamur Fusarium oxysporum f. batatas.
Gejala:
tanaman tampak lemas, urat daun menguning, layu, dan akhirnya mati. Cendawan
fusarium dapat bertahan selama beberapa tahun dalam tanah. Penularan penyakit
dapat terjadi melalui tanah, udara, air, dan terbawa oleh bibit.
Pengendalian:
(1) penggunaan bibit yang sehat (bebas penyakit); (2) pergiliran /rotasi
tanaman yang serasi di suatu daerah dengan tanaman yang bukan famili; (3)
penanaman jenis atau varietas ubi jalar yang tahan terhadap penyakit Fusarium.
c) Virus
Beberapa jenis virus yang ditemukan
menyerang tanaman ubi jalar adalah Internal Cork, Chlorotic Leaf Spot, Yellow
Dwarf.
Gejala: pertumbuhan batang dan daun tidak
normal, ukuran tanaman kecil dengan tata letak daun bergerombol di bagian
puncak, dan warna daun klorosis atau hijau kekuning-kuningan. Pada tingkat
serangan yang berat, tanaman ubi jalar tidak menghasilkan.
Pengendalian:(1) penggunaan bibit yang sehat
dan bebas virus; (2) pergiliran/rotasi tanaman selama beberapa tahun, terutama
di daerah basis (endemis) virus; (3) pembongkaran/eradikasi tanaman untuk
dimusnahkan.
d) Penyakit Lain
Penyakit-penyakit yang lain adalah,
misalnya, bercak daun cercospora oleh jamur Cercospora batatas Zimmermann,
busuk basah akar dan ubi oleh jamur Rhizopus nigricans Ehrenberg, dan klorosis
daun oleh jamur Albugo ipomeae pandurata Schweinitz.
Pengendalian:dilakukan secara terpadu,
meliputi perbaikan kultur teknik budi daya, penggunaan bibit yang sehat,
sortasi dan seleksi ubi di gudang, dan penggunaan pestisida selektif.
6.
Panen
a.
Ciri
dan Umur Panen
Tanaman ubi jalar dapat dipanen bila
ubi-ubinya sudah tua (matang fisiologis). Ciri fisik ubi jalar matang, antara
lain: bila kandungan tepungnya sudah maksimum, ditandai dengan kadar serat yang
rendah dan bila direbus (dikukus) rasanya enak serta tidak berair.
Penentuan waktu panen ubi jalar didasarkan
atas umur tanaman. Jenis atau varietas ubi jalar berumur pendek (genjah)
dipanen pada umur 3-3,5 bulan, sedangkan varietas berumur panjang (dalam)
sewaktu berumur 4,5-5 bulan.
Panen ubi jalar yang ideal dimulai pada umur
3 bulan, dengan penundaan paling lambat sampai umur 4 bulan. Panen pada umur
lebih dari 4 bulan, selain resiko serangan hama boleng cukup tinggi, juga tidak
akan memberikan kenaikan hasil ubi.
b.
Cara
Panen
Tata cara panen ubi jalar
melalui tahapan sebagai berikut:
Tentukan pertanaman ubi jalar yang telah
siap dipanen.
1)
Potong (pangkas)
batang ubi jalar dengan menggunakan parang atau sabit, kemudian
batang-batangnya disingkirkan ke luar petakan sambil dikumpulkan.
2)
Galilah
guludan dengan cangkul hingga terkuak ubi-ubinya.
3)
Ambil
dan kumpulkan ubi jalar di suatu tempat pengumpulan hasil.
4)
Bersihkan
ubi dari tanah atau kotoran dan akar yang masih menempel.
5)
Lakukan
seleksi dan sortasi ubi berdasarkan ukuran besar dan kecil ubi secara terpisah
dan warna kulit ubi yang seragam. Pisahkan ubi utuh dari ubi terluka ataupun
terserang oleh hama atau penyakit.
6)
Masukkan
ke dalam wadah atau karung goni, lalu angkut ke tempat penampungan
(pengumpulan) hasil.
c.
Prakiraan
Produksi
Tanaman ubi jalar yang tumbuhnya baik dan
tidak mendapat serangan hama penyakit yang berarti (berat) dapat menghasilkan
lebih dari 25 ton ubi basah per hektar. Varietas unggul seperti borobudur dapat
menghasilkan 25 ton, prambanan 28 ton, dan kalasan antara 31,2-47,5 ton per
hektar.
3.4 Pemeliharaan
Pemeliharaan
merupakan satu langkah jitu untuk membuat hasil tanaman yang kita tanam optimal
dalam hasil produksinya
a. sanitasi
lahan
merupakan
suatu kegiatan pembersihan gulma di sekitar lahan atau tanaman yang bertujuan agar tanaman terhindar dari
perebutan unsur hara dengan gulma dan menghindari dari erangan hama.
b. pemberian
pupuk susulan
pupuk
susulan dilakukan setelah
peraradan/pengeprisan guludan dengan jumlah 2/3
dari sisa pemupukan awal.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 hasil
Pengamatan
pertumbuhan tanaman ubi jalar dilakukan enam kali pada lima sampel tanaman ubi
jalar yang sudah dipilih untuk dijadikan sampel pengamatan. Tolak ukur
pertumbuhan tanaman ubi jalar diamati dari tinggi tanaman dan jumlah daun yang
bertambah setiap minggunya. Waktu pengamatan dimulai pada tanggal 07 Maret – 20
April 2016 yang dilakukan pengamatan setiap satu minggu sekali.
Hasil
pengamatan pertumbuhan ubi jalar yang mulai ditanam pada tanggal 17 Februari
2016 bisa dilihat di tabel dibawah ini :
Tabel 2. Tabel Hasil Pengamatan
Pertumbuhan Tanaman Ubi Jalar
|
No
|
Minggu ke-/Hari/Tanggal
|
Pengamatan
|
Sampel Tanaman
|
Rata-rata
|
||||
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
V
|
||||
|
1
|
Minggu II
HST
Rabu, 02
Maret 2016
|
Tinggi tanaman
|
35
|
40
|
39
|
42
|
40
|
38,6
|
|
Jumlah daun
|
1
|
5
|
4
|
1
|
3
|
2,8
|
||
|
2
|
Minggu III
HST
Senin, 07
Maret 2016
|
Tinggi tanaman
|
46
|
60
|
53
|
63
|
55
|
55,4
|
|
Jumlah daun
|
3
|
7
|
6
|
3
|
6
|
5
|
||
|
3
|
Minggu IV
HST
Senin, 14
Maret 2016
|
Tinggi tanaman
|
79
|
85
|
90
|
110
|
100
|
92,8
|
|
Jumlah daun
|
3
|
10
|
7
|
6
|
7
|
6,6
|
||
|
4
|
Minggu V
HST
Rabu, 23
Maret 2016
|
Tinggi tanaman
|
85
|
100
|
95
|
115
|
110
|
101
|
|
Jumlah daun
|
4
|
10
|
9
|
7
|
8
|
7,6
|
||
|
5
|
Minggu VI
HST
Rabu, 30
Maret 2016
|
Tinggi tanaman
|
135
|
81
|
97
|
170
|
170
|
130,6
|
|
Jumlah daun
|
8
|
10
|
10
|
7
|
9
|
8,8
|
||
|
6
|
Minggu VII
HST
Rabu, 06
April 2016
|
Tinggi tanaman
|
140
|
82
|
100
|
175
|
180
|
135,4
|
|
Jumlah daun
|
8
|
10
|
11
|
8
|
10
|
9,4
|
||
Keterangan
: tinggi tanaman dalam bentuk cm
Dari rata-rata pertumbuhan tanaman
yaitu tinggi tanaman dan jumlah daun pada tabel dapat dibuat grafik
pertumbahan.

Gambar. 1. Grafik
Pertumbuhan Tanaman Ubi Jalar
Berdasarkan
hasil pengamatan pada tabel dan grafik, dapat diketahui pada pengamatan pertama
pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah daun masih sedikit namun tetap normal hal
tersebut terkait dengan usia tanaman yang baru memasuki usia dua minggu.
5.2
Pembahasan
Dari sampel pada tabel dapat
diketahui bahwa tanaman dengan batang lebih tinggi/panjang cenderung memiliki
daun lebih sedikit dibandingkan dengan tanaman yang memiliki batang lebih
tinggi/panjang. Pertumbuhan tanaman terlihat normal dengan adanya peningkatan
tinggi/panjang batang di setiap pengamatan berikutnya. Tinggi tanaman dan
jumlah cabang yang bertambah menandakan
tanaman ini sehat dan bagus namun dilihat dari hasil pengamatan ada satu
sampel yang mengalami penurunan hal ini
dikarenakan sampel terkena hama sehingga membuat tanaman terputus seperti di
gigit tikus.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan, dapat diketahui pada
pengamatan pertama pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah daun masih sedikit
namun tetap normal hal tersebut terkait dengan usia tanaman yang baru memasuki
usia dua minggu.tanaman dengan batang lebih tinggi/panjang cenderung memiliki
daun lebih sedikit dibandingkan dengan tanaman yang memiliki batang lebih
tinggi/panjang. Pertumbuhan tanaman terlihat normal dengan adanya peningkatan
tinggi/panjang batang di setiap pengamatan berikutnya. Tinggi tanaman dan
jumlah cabang yang bertambah menandakan
tanaman ini sehat dan bagus namun dilihat dari hasil pengamatan ada
sampel yang mengalami penurunan hal ini
dikarenakan sampel terkena hama sehingga tanaman terputus tidak ada batang dan
daun muda seperti di gigit tikus.
5.2
saran
Budidaya ubi
jalar sangatlah mudah tapi harus benar benar dalam pemeliharaan nya dan
pemupukannya. Dan banyak hal pula
yang tidak terlaksanakan
dengan baik dalam kegiatan budidaya dan pengamatan ini , sehingga hasil dari pengamatan dan budidaya kurang begitu baik.
Untuk terwujudnya hasil budidaya dan pengamatan yang jauh lebih baik,penulis menyarankan :
-
Kekompakan
kelompok
-
Bertanggung
jawab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar