(MOTIVASI)
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Motivasi mempunyai peranan yang
strategis dalam aktivitas belajar seseorang. Tidak ada seorang pun yang belajar
tanpa motivasi. Tidak ada motivasi berarti tidak ada kegiatan belajar. Agar peranan
motivasi lebih optimal, maka prinsip-prinsip motivasi dalam belajar tidak hanya
diketahui, tetapi juga harus diterangkan dalam aktivitas belajar mengajar.
Penyuluhan
pertanian merupakan suatu proses belajar nonformal yang dilakukan oleh
sekelompok orang untuk mengetahui dan melakukan sesuatu dengan tujuan untuk
menambah wawasan, mengasah keterampilan serta merubah sikap sasarannya ke arah
yang lebih baik. Sasaran dalam penyuluhan pertanian dalam hal ini adalah
petani. Setiap petani pasti memiliki berbagai macam permasalahan dalam kegiatan
usahataninya. Oleh karena itu, penyuluhan diperlukan untuk menolong para
petani.
Petani yang
memiliki motivasi tinggi agar usahanya bisa menjadi lebih baik maka akan
antusias jika ada inovasi yang datang. Sebaliknya, jika petani yang ada lebih
cenderung meneruskan pengalaman dari nenek moyangnya secara turun menurun dan
berfikiran tidak terbuka maka akan sulit untuk menerima inovasi yang datang.
Oleh karena itu, perlu dipelajari hal-hal yang apa sajakah yang dapat mempengaruhi
motivasi setiap petani.
1.2.
Tujuan
Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui dan
memahami faktor-faktor yang mempengaruhi petani dalam melaksanakan
usahataninya.
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Motivasi
Motivasi berasal dari bahasa
latin “movere” yang artinya menimbulkan pergerakan. Menurut Gray et-al (dalam
Winardi,2001) motivasi adalah hasil sejumlah proses yang besifat faktor
internal dan faktor eksternal bagi seorang individu yang menyebabkan timbulnya
sikap antusiasme dan persistensi dalam hal melaksanakan kegiatan-kegiatan
tertentu. Menurut supriyono (2003) motivasi adalah kemampuan untuk berbuat
sesuatu.
Keberlangsungan
kegiatan penyuluhan pertanian sangatlah dipengaruhi oleh motivasi dari
sasarannya yaitu petani. Berbagai inovasi teknologi yang muncul kepada petani
tidak semuanya langsung diadopsi oleh petani. Terdapat berbagai tipe
karakteristik internal petani dalam mengadopsi inovasi yang datang. Ada
beberapa faktor yang dapat mempengaruhi motivasi petani dalam menerapkan inovasi
teknologi pertanian dalam kegiatan usahataninya.
2.1 Faktor-faktor
yang mempengaruhi motivasi
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi terdiri dari
beberapa macam. Motivasi yang ada dalam diri seseorang bukan merupakan
indikator yang berdiri sendiri. Motivasi itu sendiri muncul sebagai akibat dari
interaksi yang terjadi di dalam individu.
Danim
(2004) menyatakan bahwa, “Ada beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi, yaitu
sebagai berikut:
1. Gaya kepemimpinan administrator. Kepemimpinan dengan gaya
otoriter membuat pekerja menjadi tertekan dan acuh tak acuh dalam bekerja.
2. Sikap individu. Ada individu yang statis dan ada pula
yang dinamis. Demikian juga ada individu yang bermotivasi kerja tinggi dan ada
pula yang bermotivasi kerja rendah. Situasi dan kondisi di luar dari individu
memberi pengaruh terhadap motivasi. Akan tetapi yang paling menentukan adalah
individu itu sendiri.
3. Situasi kerja, lingkungan kerja, jarak tempuh dan
fasilitas yang tersedia membangkitkan motivasi, jika persyaratan terpenuhi.
Akan tetapi jika persyaratan tersebut tidak diperhatikan dapat menekan
motivasi. Orang dapat bekerja dengan baik jika faktor pendukungnya terpenuhi.
Sebaliknya, pekerja dapat menjadi frustasi jika faktor pendukung yang dia
kehendaki tidak tersedia.
Sementara pendapat dari beberapa ahli mengenai
faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi petani dalam menjalankan usahataninya
ialah sebagai berikut:
1.
Pengalaman Berusahatani
Menurut Rukka
(2013) dalam penelitiannya menyatakan bahwa pengalaman petani dalam berusahatani
berpengaruh terhadap cara mengadopsi suatu inovasi. Semakin lama pengalaman
berusahatani maka tingkat mengadopsi suatu teknologi akan semakin tinggi.
Pengalaman petani dalam berusahatani
yang relatif lama cukup banyak memiliki pengetahuan dan keterampilan. Dengan
bekal pengalaman usahatani tersebut maka segala inovasi dan hal baru yang
berkaitan dengan usahataninya selalu dibandingkan dengan pengalaman usahatani
yang dialaminya selama ini. Petani yang berpengalaman relatif lama dalam
usahataninya cenderung bersifat kritis.
Pengalaman merupakan reaksi yang
merangsang kegiatan-kegiatan para petani dalam lingkungannya yang bersifat
menyenangkan dan memberikan sifat positif. Menurut Milton (1961) minat yang
timbul akibat perasaan yang menytakan bahwa pengalaman-pengalaman tertenutu
yang bersifat menyenangkan dan dimiliki karena dibangkitkan atau ditimbulkan.
Semakin banyak pengalaman yang diperoleh oleh petani, maka minat mereka
terhadap usahatani padi sawah semkin tinggi, dengan banyaknya pengalaman yang
tekah mereka lalui, maka banyak cara yang dapat mereka lakukan untuk menaikkan
produksi panen.
2. Kemauan
Mardikanto
(1996), menyatakan bahwa motivasi dipengaruhi oleh status sosial ekonomi petani
dan persepsi petani terhadap inovasi. Status sosial ekonomi dalam masyarakat
dapat dimengerti melalui apa yang dimiliki oleh individu-individu ataupun
melalui kemampuan kepala keluarga untuk mengusahakannya, misalnya dengan
kekuasaan atau kewenangan yang dimiliki. Status sosial ekonomi masyarakat dapat
dilihat dari status sosial keluarga yang diukur melalui tingkat pendidikan
kepala keluarga, perbaikan lapangan pekerjaaan dan tingkat penghasilan
keluarga.
Umur
responden dapat mempengaruhi kecepatan petani dalam menerapkan teknologi
budidaya tanaman pertanian. Petani yang berusia lanjut tidak mempunyai gairah
lagi untuk mengembangkan usahataninya. Sedangkan pada umur muda dan dewasa
petani berada pada kondisi ideal untuk melakukan perubahan dalam membudidayakan
tanaman pertanian. Hal ini dikarenakan pada usia muda petani mempunyai harapan
akan usahataninya. Tingkat pendidikan akan berpengaruh terhadap kemampuan
berpikir yang sistematis dalam menganalisis suatu masalah. Kemampuan petani
menganalisis situasi ini diperlukan dalam memilih komoditas pertanian. Petani
yang mempunyai tingkat pendapatan lebih tinggi akan mempunyai kesempatan untuk
memilih tanaman dari pada yang berpendapatan rendah. Bagi petani yang mempunyai
pendapatan yang kecil tentu tidak berani mengambil resiko karena keterbatasan
modal (Yatno, et al, 2003).
3.
Tingkat Pendidikan Petani
Gambaran tingkat pendidikan
petani ini menunjukkan sebagian besar petani responden memiliki kemampuan
membaca dan tulis yang baik, sehingga memungkinkan petani dapat mengakses
informasi dari media massa sesuai kebutuhan. Secara mental pendidikan berfungsi
untuk mempersiapkan seseorang untuk
menghadapi tantangan hidup yang selalu berubah)ubah. Pendidikan dapat
mempertahankan stabilitas, kontinuitas dan mendorong untuk masa depan yang
lebih baik (Kusnadi, 2005).
4. Kebutuhan
Kebutuhan adalah barang atau jasa yang benar-benar
diperlukan. Dari hasil wawancara di lapangan, petani membutuhkan Teknologi
budidaya tanaman kedelai terutama pada benih bermutu karena mereka sudah
mengetahui apa manfaat dari benih bermutu. Kedelai merupakan bahan utama dalam
pembuatan tempe, tahu, kecap dan makanan lain yang menjadi sering dikonsumsi
oleh para masyarakat sehingga kebutuhan kedelai meningkat dan hingga saat ini
pasokan kedelai masih import. Hal ini membuat beberapa petani untuk menanam
kedelai untuk meningkatkan produksi dan menambah pendapatan guna memenuhi
kebutuhan hidup keluarga.
Upaya meningkatkan motivasi bertani dapat dilakukan
dengan cara meningkatkan rasa percaya diri petani akan keberhasilan usahanya,
dan penyuluh harus memahami perilaku petani: apa yang dibutuhkan dan hambatan
serta peluang untuk meningkatkan produksinya. Kebijakan harga dan sarana
produksi harus berorietansi pada keuntungan petani (Assagaf, 2004).
5. Penghargaan
Penghargaan merupakan suatu pemberian pada seseorang
atau kelompok jika mereka melakukan sesuatu keberhasilan di bidang tertentu.
Penanaman kedelai dengan benih bermutu terutama dalam seleksi benih bermutu
mudah di fahami petani dan mudah diterima di masyarakat. Hasil di lapangan
menunjukkan bahwa petani ingin cukup dihargai usaha taninya dalam mengadopsi
Teknologi baru untuk meningkatkan produksi. Keberhasilan mereka dalam
menerapkan Teknologi baru memberikan pengaruh positif terhadap petani maupun pamong desa.
Menurut Maslow, semua orang dalam masyarakat (kecuali
beberapa kasus yang patologis) mempunyai kebutuhan atau menginginkan penilaian
terhadap dirinya yang mantap, mempunyai dasar yang kuat dan biasanya bermutu
tinggi, akan rasa hormat diri atau harga diri. Karenanya, Maslow membedakan
kebutuhan ini menjadi kebutuhan akan penghargaan secara internal dan eksternal.
Yang pertama (internal) mencakup
kebutuhan akan harga diri kepercayaan diri, kompetensi, penguasaan, kecukupan,
prestasi, ketidaktergantungan, dan kebebasan (kemerdekaan). Yang kedua
(eksternal) menyangkut penghargaan dari orang lain, prestise, pengakuan,
penerimaan, ketenaran, martabat, perhatian, kedudukan, apresiasi atau nama
baik. Orang yang memiliki cukup harga diri akan lebih percaya diri.
PENUTUP
Berdasarkan
hasil pembahasan dari berbagai literatur atau referensi yang ada, maka dapat
disimpulkan bahwa :
1.
Motivasi adalah faktor yang sangat penting atau
berpengaruh dalam perilaku tertentu, motivasi adalah hasil sejumlah proses yang besifat faktor
internal dan faktor eksternal bagi seorang individu yang menyebabkan timbulnya
sikap antusiasme dan persistensi dalam hal melaksanakan kegiatan-kegiatan
tertentu.
2.
Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi
petani adalah pengalaman berusahatani, kemauan, tingkat Pendidikan petani,
kebutuhan, penghargaan.
(PERILAKU)
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Perilaku merupakan segala perbuatan atau tindakan yang dilakukan oleh
makhluk hidup. Pada dasarnya bentuk perilaku dapat diamati, melalui sikap dan
tindakan, namun demikian tidak berarti bahwa bentuk perilaku itu hanya dapat
dilihat dari sikap dan tindakannya saja. Perilaku dapat pula bersifat potensial
yakni dalam bentuk pengetahuan, motivasi dan persepsi.
Perubahan
perilaku yang terjadi atau dilakukan oleh sasaran tersebut berlangsung melalui
proses belajar. Perubahan perilaku dapat dilakukan melalui beragam cara,
seperti pembujukan, pemberian intensif atau hadiah bahkan melalui
kegiatan-kegiatan pemaksaan baik melalui penciptaan kondisi lingkungan fisik
maupun sosial ekonomi, maupun pemaksaan melalui aturan dan ancaman-ancaman.
Makalah ini akan membahas tentang berbagai faktor yang dapat mempengaruhi
perilaku petani dalam menjalankan kegiatan usahataninya.
Selain faktor psikologis yang
menentukan sikap, juga komunikasi sosial merupakan determinan paling dominan
menentukan sikap seorang petani terhadap inovasi teknologi pertanian.
Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa suatu inovasi teknologi baru yang
diterima individu petani melalui proses persepsi. Terbentuknya sikap seseorang
menurut Mar’at (1984) yaitu dipengaruhi oleh faktor internal (fisiologis dan
psikologis) dan faktor eksternal (pengalaman, situasi, norma-norma, hambatan
dan dorongan).
1.2.
Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini ialah untuk mengetahui dan
memahami faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku petani dalam menerapkan usaha
taninya.
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian perilaku
Sikap yang dimiliki seseorang
memberikan corak pada perilaku atau tindakan orang yang bersangkutan (Walgito,
2006). Krech dan Crutchfield dalam Walgito (2006), mengatakan bahwa perilaku
seseorang akan diwarnai atau dilatarbelakangi oleh sikap yang ada pada orang
yang bersangkutan. Para ahli psikologi sosial memberikan pengertian tentang
sikap yang sedikit berbeda-beda namun pada dasarnya semuanya bertujuan untuk
mengetahui prilaku seseorang.
Walgito (2006) mendefinisikan
sikap adalah suatu organisasi yang mengandung pendapat, pengetahuan, perasaan,
keyakinan tentang sesuatu yang sifatnya relatif konstan pada perasaan tertentu
dan memberikan dasar untuk berperilaku.
Van den Ban dan Hawkins (2000)
mendefinisikan sikap sebagai perasaan pikiran, dan kecenderungan seseorang yang
kurang lebih bersifat parmanen mengenai aspek-aspek tertentu dalam lingkungan.
Dengan demikian komponen-komponen sikap meliputi pengetahuan, pendapat,
pikiran, keyakinan dan perasaan-perasaan dan kecenderungan bertindak.
Festinger
dalam Walgito (2006) mengemukakan bahwa sikap individu biasanya konsisten satu
dengan yang lain dan juga dalam tindakan konsisten satu dengan yang lain. Akan
tetapi bagi petani sikap dan tindakan bisa konsisten apabila inovasi yang
diyakininya dapat memberikan manfaat dan keuntungan, apabila suatu inovasi
tersebut tidak memberikan manfaat maka sikapnya dapat berubah pada inovasi yang
lain.
2.2
Faktor-faktor
yang mempengaruhi perilaku petani
Faktor-faktor yang mempengaruhi petani dalam menjalankan usahataninya terbagi
menjadi dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
a.
Faktor internal
1. Umur
Umur petani
diprediksikan akan mempengaruhi perilaku petani tersebut dalam mengelola lahan
pertaniannya. Umur petani berpengaruh pada kinerja dan tenaga dalam mengelola
lahan pertanian. Semakin tua umur petani diasumsikan akan memiliki tingkat
kinerja dan tenaga petani yang lebih rendah dibandingkan dengan petani yang
lebih muda tingkat kinerja dan tenaga yang dimiliki lebih tinggi dalam
mengelola lahan pertaniannya.
2.
Kepribadian
Kepribadian adalah segala corak kebiasaan manusia yang
terhimpun dalam dirinya yang digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri
terhadap segala rangsang baik yang datang dari dalam dirinya maupun dari
lingkungannya, sehingga corak dan kebiasaan itu merupakan suatu kesatuan
fungsional yang khas untuk manusia itu. Dari pengertian tersebut, kepribadian
seseorang jelas sangat berpengaruh terhadap perilaku sehari-harinya
3.
Luas
Lahan Garapan
Lahan
merupakan salah satu faktor produksi yang sangat penting bagi petani. Umumnya
petani memiliki lahan usahatani baik untuk tanaman pokok maupun tanaman
lainnya. Menurut Lains (1988) dalam Joko Triyanto (2006) Luas lahan padi sangat
mempengaruhi minat, apabila luas lahan padi semakin luas maka minat petani
untuk berusahatani semakin tinggi.
Petani
yang berlahan lebih sempit sering tidak dapat menerapkan usahatani secara
intensif karena harus melakukan kegiatan lain diluar usahataninya untuk
memperoleh tambahan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, sehingga
petani tidak selalu bebas melakukan perubahan) perubahan usahataninya karena
harus mengalokasikan waktu dan mencurahkan tenaganya untuk kegiatan) kegiatan
di usahataninya dan di luar usahataninya (Mardikanto, 1993)
b.
Faktor eksternal
1.
Pendidikan
Inti dari kegiatan pendidikan adalah proses belajar mengajar. Hasil dari proses belajar mengajar adalah seperangkat perubahan perilaku. Dengan demikian pendidikan sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku seseorang. Seseorang yang berpendidikan tinggi akan berbeda perilakunya dengan orang yang berpendidikan rendah.
Inti dari kegiatan pendidikan adalah proses belajar mengajar. Hasil dari proses belajar mengajar adalah seperangkat perubahan perilaku. Dengan demikian pendidikan sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku seseorang. Seseorang yang berpendidikan tinggi akan berbeda perilakunya dengan orang yang berpendidikan rendah.
2.
Agama
Agama akan menjadikan individu bertingkah laku sesuai dengan norma dan nilai yang diajarkan oleh agama yang diyakininya.
Agama akan menjadikan individu bertingkah laku sesuai dengan norma dan nilai yang diajarkan oleh agama yang diyakininya.
3.
Kebudayaan
Kebudayaan diartikan sebagai kesenian, adat istiadat atau peradaban manusia. Tingkah laku seseorang dalam kebudayaan tertentu akan berbeda dengan orang yang hidup pada kebudayaan lainnya, misalnya tingkah laku orang Jawa dengan tingkah laku orang Papua
Kebudayaan diartikan sebagai kesenian, adat istiadat atau peradaban manusia. Tingkah laku seseorang dalam kebudayaan tertentu akan berbeda dengan orang yang hidup pada kebudayaan lainnya, misalnya tingkah laku orang Jawa dengan tingkah laku orang Papua
4.
Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh untuk mengubah sifat dan perilaku individu karena lingkungan itu dapat merupakan lawan atau tantangan bagi individu untuk mengatasinya. Individu terus berusaha menaklukkan lingkungan sehingga menjadi jinak dan dapat dikuasainya.
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh untuk mengubah sifat dan perilaku individu karena lingkungan itu dapat merupakan lawan atau tantangan bagi individu untuk mengatasinya. Individu terus berusaha menaklukkan lingkungan sehingga menjadi jinak dan dapat dikuasainya.
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil pembahasan yang telah ditulis dari berbagai referensi yang ada, maka
dapat disimpulkan:
1.
Perilaku merupakan segala perbuatan atau tindakan yang
dilakukan oleh setiap makhluk hidup, perilaku dapat juga bersifat potensial
yaitu dalam bentuk pengetahuan, motivasi, persepsi.
2.
Perilaku petani dalam menerapkan usaha taninya dibagi
kedalam dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
3.
Faktor internal meliputi umur, kepribadian dan luas
lahan garapan. Sedangkan faktor eksternalnya ialah Pendidikan, agama,
kebudayaan, lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
http://agus.blogchandra.com/teori-teori-motivasi/Sudrajad,akhmad.
2008. Di upload pada (11 November 2017)
http://fp.uns.ac.id/jurnal/
(diakses tanggal 7 November 2017)
Ryanti,
D.B.P & Prabowo, H. Seri Diktat Kuliah Psikologi Umum 2. Jakarta:
Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma
Rosnita,dkk.
2016. Jurnal Penilitian-Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku
Petani Dalam Menerima Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (Krpl) Di Kabupaten
Pelalawan.Riau. Universitas
Riau Pekanbaru.
Rukka,Hermaya dan Arman
Wahhab. 2013. Jurnal Agrisistem-Faktor
yang mempengaruhi motivasi petani dalam pelaksanaan kegiatan P2BN di Kecamatan
Barru Kabupaten Barru. Gowa. Sekolah Tinngi Penyuluhan Pertanian (STPP)
Gowa.
Satriani, Lukman Effendy dan
Elih Juhdi Muslihat. 2012. Jurnal-Motivasi
Petani dalam Penerapan Teknologi PTT Padi Sawah (Oryza sativa) Di desa Gunung
Sari Provinsi Sulawesi Barat. Bogor. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian
(STPP) Bogor.
Yahya,Mukhlis. 2002. Jurnal-Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Adopsi Petani Dalam Pengelolaan
Tanaman Terpadu Padi Sawah Di Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara. Medan. Sekolah Tinggi
Penyuluhan Pertanian (STPP) Medan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar