Kamis, 10 Mei 2018

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU PETANI DALAM MENERAPKAN INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN PADA LAHAN USAHATANINYA

(MOTIVASI)
PENDAHULUAN
1.1.        Latar Belakang
Motivasi mempunyai peranan yang strategis dalam aktivitas belajar seseorang. Tidak ada seorang pun yang belajar tanpa motivasi. Tidak ada motivasi berarti tidak ada kegiatan belajar. Agar peranan motivasi lebih optimal, maka prinsip-prinsip motivasi dalam belajar tidak hanya diketahui, tetapi juga harus diterangkan dalam aktivitas belajar mengajar.
Penyuluhan pertanian merupakan suatu proses belajar nonformal yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk mengetahui dan melakukan sesuatu dengan tujuan untuk menambah wawasan, mengasah keterampilan serta merubah sikap sasarannya ke arah yang lebih baik. Sasaran dalam penyuluhan pertanian dalam hal ini adalah petani. Setiap petani pasti memiliki berbagai macam permasalahan dalam kegiatan usahataninya. Oleh karena itu, penyuluhan diperlukan untuk menolong para petani.
Petani yang memiliki motivasi tinggi agar usahanya bisa menjadi lebih baik maka akan antusias jika ada inovasi yang datang. Sebaliknya, jika petani yang ada lebih cenderung meneruskan pengalaman dari nenek moyangnya secara turun menurun dan berfikiran tidak terbuka maka akan sulit untuk menerima inovasi yang datang. Oleh karena itu, perlu dipelajari hal-hal yang apa sajakah yang dapat mempengaruhi motivasi setiap petani.
1.2.        Tujuan
Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi petani dalam melaksanakan usahataninya.



PEMBAHASAN
2.1  Pengertian Motivasi
Motivasi berasal dari bahasa latin “movere” yang artinya menimbulkan pergerakan. Menurut Gray et-al (dalam Winardi,2001) motivasi adalah hasil sejumlah proses yang besifat faktor internal dan faktor eksternal bagi seorang individu yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi dalam hal melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu. Menurut supriyono (2003) motivasi adalah kemampuan untuk berbuat sesuatu.
          Keberlangsungan kegiatan penyuluhan pertanian sangatlah dipengaruhi oleh motivasi dari sasarannya yaitu petani. Berbagai inovasi teknologi yang muncul kepada petani tidak semuanya langsung diadopsi oleh petani. Terdapat berbagai tipe karakteristik internal petani dalam mengadopsi inovasi yang datang. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi motivasi petani dalam menerapkan inovasi teknologi pertanian dalam kegiatan usahataninya.

2.1   Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi
Faktor-faktor  yang Mempengaruhi Motivasi terdiri dari beberapa macam. Motivasi yang ada dalam diri seseorang bukan merupakan indikator yang berdiri sendiri. Motivasi itu sendiri muncul sebagai akibat dari interaksi yang terjadi di dalam individu.
Danim (2004) menyatakan bahwa, “Ada beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi, yaitu sebagai berikut:
1.      Gaya kepemimpinan administrator. Kepemimpinan dengan gaya otoriter membuat pekerja menjadi tertekan dan acuh tak acuh dalam bekerja.
2.      Sikap individu. Ada individu yang statis dan ada pula yang dinamis. Demikian juga ada individu yang bermotivasi kerja tinggi dan ada pula yang bermotivasi kerja rendah. Situasi dan kondisi di luar dari individu memberi pengaruh terhadap motivasi. Akan tetapi yang paling menentukan adalah individu itu sendiri.
3.      Situasi kerja, lingkungan kerja, jarak tempuh dan fasilitas yang tersedia membangkitkan motivasi, jika persyaratan terpenuhi. Akan tetapi jika persyaratan tersebut tidak diperhatikan dapat menekan motivasi. Orang dapat bekerja dengan baik jika faktor pendukungnya terpenuhi. Sebaliknya, pekerja dapat menjadi frustasi jika faktor pendukung yang dia kehendaki tidak tersedia.
Sementara pendapat dari beberapa ahli mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi petani dalam menjalankan usahataninya ialah sebagai berikut:
1.    Pengalaman Berusahatani
Menurut Rukka (2013) dalam penelitiannya menyatakan bahwa pengalaman petani dalam berusahatani berpengaruh terhadap cara mengadopsi suatu inovasi. Semakin lama pengalaman berusahatani maka tingkat mengadopsi suatu teknologi akan semakin tinggi.
Pengalaman petani dalam berusahatani yang relatif lama cukup banyak memiliki pengetahuan dan keterampilan. Dengan bekal pengalaman usahatani tersebut maka segala inovasi dan hal baru yang berkaitan dengan usahataninya selalu dibandingkan dengan pengalaman usahatani yang dialaminya selama ini. Petani yang berpengalaman relatif lama dalam usahataninya cenderung bersifat kritis.
Pengalaman merupakan reaksi yang merangsang kegiatan-kegiatan para petani dalam lingkungannya yang bersifat menyenangkan dan memberikan sifat positif. Menurut Milton (1961) minat yang timbul akibat perasaan yang menytakan bahwa pengalaman-pengalaman tertenutu yang bersifat menyenangkan dan dimiliki karena dibangkitkan atau ditimbulkan. Semakin banyak pengalaman yang diperoleh oleh petani, maka minat mereka terhadap usahatani padi sawah semkin tinggi, dengan banyaknya pengalaman yang tekah mereka lalui, maka banyak cara yang dapat mereka lakukan untuk menaikkan produksi panen.
2.    Kemauan
Mardikanto (1996), menyatakan bahwa motivasi dipengaruhi oleh status sosial ekonomi petani dan persepsi petani terhadap inovasi. Status sosial ekonomi dalam masyarakat dapat dimengerti melalui apa yang dimiliki oleh individu-individu ataupun melalui kemampuan kepala keluarga untuk mengusahakannya, misalnya dengan kekuasaan atau kewenangan yang dimiliki. Status sosial ekonomi masyarakat dapat dilihat dari status sosial keluarga yang diukur melalui tingkat pendidikan kepala keluarga, perbaikan lapangan pekerjaaan dan tingkat penghasilan keluarga.
Umur responden dapat mempengaruhi kecepatan petani dalam menerapkan teknologi budidaya tanaman pertanian. Petani yang berusia lanjut tidak mempunyai gairah lagi untuk mengembangkan usahataninya. Sedangkan pada umur muda dan dewasa petani berada pada kondisi ideal untuk melakukan perubahan dalam membudidayakan tanaman pertanian. Hal ini dikarenakan pada usia muda petani mempunyai harapan akan usahataninya. Tingkat pendidikan akan berpengaruh terhadap kemampuan berpikir yang sistematis dalam menganalisis suatu masalah. Kemampuan petani menganalisis situasi ini diperlukan dalam memilih komoditas pertanian. Petani yang mempunyai tingkat pendapatan lebih tinggi akan mempunyai kesempatan untuk memilih tanaman dari pada yang berpendapatan rendah. Bagi petani yang mempunyai pendapatan yang kecil tentu tidak berani mengambil resiko karena keterbatasan modal (Yatno, et al, 2003).
3.    Tingkat Pendidikan Petani
Gambaran tingkat pendidikan petani ini menunjukkan sebagian besar petani responden memiliki kemampuan membaca dan tulis yang baik, sehingga memungkinkan petani dapat mengakses informasi dari media massa sesuai kebutuhan. Secara mental pendidikan berfungsi untuk mempersiapkan  seseorang untuk menghadapi tantangan hidup yang selalu berubah)ubah. Pendidikan dapat mempertahankan stabilitas, kontinuitas dan mendorong untuk masa depan yang lebih baik (Kusnadi, 2005).
4.    Kebutuhan
Kebutuhan adalah barang atau jasa yang benar-benar diperlukan. Dari hasil wawancara di lapangan, petani membutuhkan Teknologi budidaya tanaman kedelai terutama pada benih bermutu karena mereka sudah mengetahui apa manfaat dari benih bermutu. Kedelai merupakan bahan utama dalam pembuatan tempe, tahu, kecap dan makanan lain yang menjadi sering dikonsumsi oleh para masyarakat sehingga kebutuhan kedelai meningkat dan hingga saat ini pasokan kedelai masih import. Hal ini membuat beberapa petani untuk menanam kedelai untuk meningkatkan produksi dan menambah pendapatan guna memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
Upaya meningkatkan motivasi bertani dapat dilakukan dengan cara meningkatkan rasa percaya diri petani akan keberhasilan usahanya, dan penyuluh harus memahami perilaku petani: apa yang dibutuhkan dan hambatan serta peluang untuk meningkatkan produksinya. Kebijakan harga dan sarana produksi harus berorietansi pada keuntungan petani (Assagaf, 2004).
5.    Penghargaan
            Penghargaan merupakan suatu pemberian pada seseorang atau kelompok jika mereka melakukan sesuatu keberhasilan di bidang tertentu. Penanaman kedelai dengan benih bermutu terutama dalam seleksi benih bermutu mudah di fahami petani dan mudah diterima di masyarakat. Hasil di lapangan menunjukkan bahwa petani ingin cukup dihargai usaha taninya dalam mengadopsi Teknologi baru untuk meningkatkan produksi. Keberhasilan mereka dalam menerapkan Teknologi baru memberikan pengaruh positif terhadap petani maupun pamong desa.
            Menurut Maslow, semua orang dalam masyarakat (kecuali beberapa kasus yang patologis) mempunyai kebutuhan atau menginginkan penilaian terhadap dirinya yang mantap, mempunyai dasar yang kuat dan biasanya bermutu tinggi, akan rasa hormat diri atau harga diri. Karenanya, Maslow membedakan kebutuhan ini menjadi kebutuhan akan penghargaan secara internal dan eksternal.
            Yang pertama (internal) mencakup kebutuhan akan harga diri kepercayaan diri, kompetensi, penguasaan, kecukupan, prestasi, ketidaktergantungan, dan kebebasan (kemerdekaan). Yang kedua (eksternal) menyangkut penghargaan dari orang lain, prestise, pengakuan, penerimaan, ketenaran, martabat, perhatian, kedudukan, apresiasi atau nama baik. Orang yang memiliki cukup harga diri akan lebih percaya diri.
           



PENUTUP
Berdasarkan hasil pembahasan dari berbagai literatur atau referensi yang ada, maka dapat disimpulkan bahwa :
1.    Motivasi adalah faktor yang sangat penting atau berpengaruh dalam perilaku tertentu, motivasi adalah hasil sejumlah proses yang besifat faktor internal dan faktor eksternal bagi seorang individu yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi dalam hal melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu.
2.    Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi petani adalah pengalaman berusahatani, kemauan, tingkat Pendidikan petani, kebutuhan, penghargaan. 
(PERILAKU) 
PENDAHULUAN
1.1.        Latar Belakang
Perilaku merupakan segala perbuatan atau tindakan yang dilakukan oleh makhluk hidup. Pada dasarnya bentuk perilaku dapat diamati, melalui sikap dan tindakan, namun demikian tidak berarti bahwa bentuk perilaku itu hanya dapat dilihat dari sikap dan tindakannya saja. Perilaku dapat pula bersifat potensial yakni dalam bentuk pengetahuan, motivasi dan persepsi.
Perubahan perilaku yang terjadi atau dilakukan oleh sasaran tersebut berlangsung melalui proses belajar. Perubahan perilaku dapat dilakukan melalui beragam cara, seperti pembujukan, pemberian intensif atau hadiah bahkan melalui kegiatan-kegiatan pemaksaan baik melalui penciptaan kondisi lingkungan fisik maupun sosial ekonomi, maupun pemaksaan melalui aturan dan ancaman-ancaman. Makalah ini akan membahas tentang berbagai faktor yang dapat mempengaruhi perilaku petani dalam menjalankan kegiatan usahataninya.

Selain faktor psikologis yang menentukan sikap, juga komunikasi sosial merupakan determinan paling dominan menentukan sikap seorang petani terhadap inovasi teknologi pertanian. Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa suatu inovasi teknologi baru yang diterima individu petani melalui proses persepsi. Terbentuknya sikap seseorang menurut Mar’at (1984) yaitu dipengaruhi oleh faktor internal (fisiologis dan psikologis) dan faktor eksternal (pengalaman, situasi, norma-norma, hambatan dan dorongan). 
1.2.        Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini ialah untuk mengetahui dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku petani dalam menerapkan usaha taninya.


PEMBAHASAN

2.1          Pengertian perilaku
Sikap yang dimiliki seseorang memberikan corak pada perilaku atau tindakan orang yang bersangkutan (Walgito, 2006). Krech dan Crutchfield dalam Walgito (2006), mengatakan bahwa perilaku seseorang akan diwarnai atau dilatarbelakangi oleh sikap yang ada pada orang yang bersangkutan. Para ahli psikologi sosial memberikan pengertian tentang sikap yang sedikit berbeda-beda namun pada dasarnya semuanya bertujuan untuk mengetahui prilaku seseorang.
Walgito (2006) mendefinisikan sikap adalah suatu organisasi yang mengandung pendapat, pengetahuan, perasaan, keyakinan tentang sesuatu yang sifatnya relatif konstan pada perasaan tertentu dan memberikan dasar untuk berperilaku.
Van den Ban dan Hawkins (2000) mendefinisikan sikap sebagai perasaan pikiran, dan kecenderungan seseorang yang kurang lebih bersifat parmanen mengenai aspek-aspek tertentu dalam lingkungan. Dengan demikian komponen-komponen sikap meliputi pengetahuan, pendapat, pikiran, keyakinan dan perasaan-perasaan dan kecenderungan bertindak.
Festinger dalam Walgito (2006) mengemukakan bahwa sikap individu biasanya konsisten satu dengan yang lain dan juga dalam tindakan konsisten satu dengan yang lain. Akan tetapi bagi petani sikap dan tindakan bisa konsisten apabila inovasi yang diyakininya dapat memberikan manfaat dan keuntungan, apabila suatu inovasi tersebut tidak memberikan manfaat maka sikapnya dapat berubah pada inovasi yang lain.
2.2          Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku petani
Faktor-faktor yang mempengaruhi petani dalam menjalankan usahataninya terbagi menjadi dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal.


a.    Faktor internal
1.      Umur
Umur petani diprediksikan akan mempengaruhi perilaku petani tersebut dalam mengelola lahan pertaniannya. Umur petani berpengaruh pada kinerja dan tenaga dalam mengelola lahan pertanian. Semakin tua umur petani diasumsikan akan memiliki tingkat kinerja dan tenaga petani yang lebih rendah dibandingkan dengan petani yang lebih muda tingkat kinerja dan tenaga yang dimiliki lebih tinggi dalam mengelola lahan pertaniannya.
2.    Kepribadian
Kepribadian adalah segala corak kebiasaan manusia yang terhimpun dalam dirinya yang digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala rangsang baik yang datang dari dalam dirinya maupun dari lingkungannya, sehingga corak dan kebiasaan itu merupakan suatu kesatuan fungsional yang khas untuk manusia itu. Dari pengertian tersebut, kepribadian seseorang jelas sangat berpengaruh terhadap perilaku sehari-harinya
3.    Luas Lahan Garapan
Lahan merupakan salah satu faktor produksi yang sangat penting bagi petani. Umumnya petani memiliki lahan usahatani baik untuk tanaman pokok maupun tanaman lainnya. Menurut Lains (1988) dalam Joko Triyanto (2006) Luas lahan padi sangat mempengaruhi minat, apabila luas lahan padi semakin luas maka minat petani untuk berusahatani semakin tinggi.
Petani yang berlahan lebih sempit sering tidak dapat menerapkan usahatani secara intensif karena harus melakukan kegiatan lain diluar usahataninya untuk memperoleh tambahan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, sehingga petani tidak selalu bebas melakukan perubahan) perubahan usahataninya karena harus mengalokasikan waktu dan mencurahkan tenaganya untuk kegiatan) kegiatan di usahataninya dan di luar usahataninya (Mardikanto, 1993)


b.    Faktor eksternal
1.    Pendidikan
Inti dari kegiatan pendidikan adalah proses belajar mengajar. Hasil dari proses belajar mengajar adalah seperangkat perubahan perilaku. Dengan demikian pendidikan sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku seseorang. Seseorang yang berpendidikan tinggi akan berbeda perilakunya dengan orang yang berpendidikan rendah.
2.    Agama
Agama akan menjadikan individu bertingkah laku sesuai dengan norma dan nilai yang diajarkan oleh agama yang diyakininya.
3.    Kebudayaan
Kebudayaan diartikan sebagai kesenian, adat istiadat atau peradaban manusia. Tingkah laku seseorang dalam kebudayaan tertentu akan berbeda dengan orang yang hidup pada kebudayaan lainnya, misalnya tingkah laku orang Jawa dengan tingkah laku orang Papua
4.    Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh untuk mengubah sifat dan perilaku individu karena lingkungan itu dapat merupakan lawan atau tantangan bagi individu untuk mengatasinya. Individu terus berusaha menaklukkan lingkungan sehingga menjadi jinak dan dapat dikuasainya.











PENUTUP
Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan yang telah ditulis dari berbagai referensi yang ada, maka dapat disimpulkan:
1.    Perilaku merupakan segala perbuatan atau tindakan yang dilakukan oleh setiap makhluk hidup, perilaku dapat juga bersifat potensial yaitu dalam bentuk pengetahuan, motivasi, persepsi.
2.    Perilaku petani dalam menerapkan usaha taninya dibagi kedalam dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
3.    Faktor internal meliputi umur, kepribadian dan luas lahan garapan. Sedangkan faktor eksternalnya ialah Pendidikan, agama, kebudayaan, lingkungan.























DAFTAR PUSTAKA
http://agus.blogchandra.com/teori-teori-motivasi/Sudrajad,akhmad. 2008.  Di upload pada (11 November 2017)
http://fp.uns.ac.id/jurnal/ (diakses tanggal 7 November 2017)
Ryanti, D.B.P & Prabowo, H. Seri Diktat Kuliah Psikologi Umum 2. Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma
Rosnita,dkk. 2016. Jurnal Penilitian-Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Petani Dalam Menerima Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (Krpl) Di Kabupaten Pelalawan.Riau. Universitas Riau Pekanbaru.
Rukka,Hermaya dan Arman Wahhab. 2013. Jurnal Agrisistem-Faktor yang mempengaruhi motivasi petani dalam pelaksanaan kegiatan P2BN di Kecamatan Barru Kabupaten Barru. Gowa. Sekolah Tinngi Penyuluhan Pertanian (STPP) Gowa.
Satriani, Lukman Effendy dan Elih Juhdi Muslihat. 2012. Jurnal-Motivasi Petani dalam Penerapan Teknologi PTT Padi Sawah (Oryza sativa) Di desa Gunung Sari Provinsi Sulawesi Barat. Bogor. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Bogor.
Yahya,Mukhlis. 2002. Jurnal-Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Adopsi Petani Dalam Pengelolaan Tanaman Terpadu Padi Sawah Di Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara. Medan. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Medan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar